Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

Resensi Buku "Menafsir Jejak Tan Malaka Lewat Lakon"



Judul Buku : Tan Malaka Dan Dua Lakon lain
Penulis : Goenawan Mohamad
Penerbit : KitaKita
Cetakan : Oktober, 2009
Tebal : 130 halaman


Ada daya magnet yang besar bagi peminat sastra, bila di sampul sebuah buku tertulis nama Goenawan Mohamad (GM). Tentu saja, GM adalah legenda hidup sastra Indonesia. Ia dikenal sebagai pemikir, penyair, dan esais Catatan Pinggir yang rutin terbit di halaman akhir majalah Tempo.

Dan bahkan, GM, bagi sebahagian penulis muda hari ini, adalah menara suar, yang karya dan pemikirannya menjadi kanon yang terus dikuntit.

Tapi tidak banyak orang tahu kalau GM selain menulis puisi dan esai juga acapkali terlibat dengan seni pertunjukan. Padahal dari catatan yang ada, GM sudah terlibat dalam seni pertunjukkan sejak akhir 1990-an. Tentunya sebagai penulis naskah. Rentang tahun 1996-2003 ia terlibat dalam penulisan libretto (teks skenario opera musikal) yang berjudul Kali. Kali dimainkan oleh komponis Tony Prabowo dan Jarrad Powel. Kemudian menulis libretto The King’s Witch (1997-2000), dipentaskan di beberapa tempat di Amerika Serikat dan Eropa. Pertunjukkan lain, yang skenarionya ditulis GM adalah Kali-Yuga, sebuah drama tari yang digarap oleh koreografer Wayan Dibya. Ada juga teks skenario pertunjukkan wayang kulit seperti, Wisanggeni (1995), Alap-alap Surtikanti, (2002) yang dimainkan oleh Sujiwo Tejo. Sebuah drama tari Panji Sepuh, digarap oleh Sulistio Tirtosudarmo tahun 1997.

Dalam buku Tan Malaka Dan Dua Lakon Lain ini, GM menyajikan tiga buah naskah panggung yang sedianya siap untuk dimainkan. Sebagaimana yang tersirat pada judul di halaman sampul, buku ini adalah antologi naskah lakon. Lakon pertama adalah sebuah libretto yang berjudul Tan Malaka. Naskah kedua adalah sebuah monolog yang bejudul Surti Dan Tiga Sawunggaling, kemudian satu naskah lagi adalah drama satu babak yang berjudul Visa.

Libretto Tan Malaka sedianya ditulis untuk karya opera musikal yang diproduksi oleh Tony Prabowo tahun 2010 akan datang di Teater Salihara, Jakarta. Dalam libretto kali ini, seperti yang dipaparkan pada pengantar buku ini, ia disebut “sebuah esai, sebuah opera” karena bentuk dan dasar teks esai berperan besar di dalamnya. Rencananya, lakon Tan Malaka ini dimainkan dengan paduan aria (nyanyian tunggal yang diiringi musik seperti dalam opera dan oratoria), kur, dan permainan slide mulitimedia.

Mungkin ada yang bertanya: kenapa judulnya Tan Malaka? Apa hubungannya dengan pahlawan misterius itu? Apakah ada seorang tokoh yang berperan sebagai Tan Malaka? Jawabannya: Tidak. Tan Malaka dalam teks pertunjukkan ini hanyalah sebuah wacana, sebuah persoalan, sebagaimana semula disebutkan GM. Kali ini sosok Tan Malaka diperbincangkan dalam sebuah esai, yang dilisankan.

Lakon Tan Malaka terdiri dari tiga babak. Babak pertama dari luar panggung terdengar suara-suara: “Tan Malaka dimana, Tuan?”, “Tuan masih hidup?”, selanjutnya narasi dialirkan dalam dua orang pelantun aria. Pada satu bagian, diceritakan lewat narator: di Baya, di wilayah Banten itu, ia membuatku curiga. /”Tuan Tan Malaka?”/ Ia tak Menjawab./ ”atau Iyas Hussein?”/ Ia juga tak menjawab./ Di bawah alisnya yang tebal, ia malah bertanya: “Apa kalian katakan tentang Indonesia? Timur yang berhenti karena takdir?[...]

Perdebatan tentang sosok tokoh Tan Malaka sebagai sebuah wacana semakin padat pada babak dua dan babak tiga. Di babak dua, wacana kemerdekaan yang menjadi problematika utama perjuangan Tan Malaka, dilantunkan dalam aria: Di pagina yang terbaca/ Di buku putih yang terbuka/ Di kertas merang dan abu/ Aku tulis namamu/ “Kemerdekaan”/ Pada hutan dan gurun/ Pada sarang dan semak ranum/ Pada gema masa kanakku/ Aku tulis namamu/ “Kemerdekaan”/.

Ketokohan Tan Malaka di masa hari-hari kemerdekaan 17 Agustus 1945, dihadirkan dalam babak tiga. Lewat narator disampaikan kisah: Kata orang ia berada di Jakarta hari-hari itu. Tapi proklamasi kemerdekaan disiapkan pemuda, dan ia tak disana. Tan Malaka tak tampak bahkan beberapa meter saja dari Jalan Pegangsaan. Ia tak kelihatan di tanggal 17 Agustus itu. Tak seorang pun memberitahunya. Pada bagian selanjutnya narator mengungkapkan: Ia menggeleng-gelengkan kepala mendengar pernyataan kemerdekaan oleh Bung Karno hari itu. Mungkin ia menganggap seluruhnya lembek, atau semu, atau–/ Mungkin selamanya asing. Tampaknya, bila membayangkan pementasan lakon libretto Tan Malaka ini, barangkali berjalan dalam irama yang ketat dan serius.

Naskah lakon kedua, yang berjudul Surti Dan Tiga Sawunggaling, sebuah monolog untuk pemain perempuan. Pada pengantar buku GM menjelaskan, bahwa naskah ini sedianya akan dimainkan oleh Sri Qadaryatin dari Teater Garasi, Yogya. Namun hingga saat ini rencana itu belum sempat terlaksana.

Monolog ini memuat kisah Surti, perempuan berusia 33 tahun, seorang istri yang suaminya terbunuh sebagai gerilyawan perang kemerdekaan. Suaminya, Jen, diburu dan dibunuh oleh tentara Belanda. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mengejar Jen karena ia terlibat pergerakan pemberontak komunis. Sebelum Jen terbunuh, beberapa kali Surti melihat sosok lelaki bertopeng, kepalanya tertutup sarung bantal yang pada bagian mata dan mulut dilobangi. Lelaki bertopeng tersebut beberapa kali muncul disela kesibukannya, tentu lelaki itu bertujuan mengintai suaminya.

Menariknya monolog ini, kisah juga dialirkan melalui karakter tiga ekor burung Sawunggaling, yang diberi nama Anjani, Baiwara, dan Cawir. Ketiga burung tersebut merupakan karakter animatif imajiner yang muncul dari lukisan batik di kain Mori yang dikerjakan Surti. Diceritakan, bahwa ketiga burung tersebut adalah penyaksi, bagaimana suaminya berjuang, bergerilya, walau akhirnya mati terbunuh.

Monolog ini merupakan satu dari banyaknya kisah tragis dari zaman perang pada penjajahan. Memang tak perlu dipungkiri, penjajahan Belanda telah membuat bekas luka besar bagi bangsa Indonesia, bahkan banyak jejak luka yang belum tersembuhkan itu kini tersisa sebagai artefak sejarah.

Lakon ketiga, yang berjudul Visa, merupakan lakon satu babak yang pernah dipentaskan oleh Teater Lungid di Solo, Jakarta dan Surabaya. Visa diangkat dari problematika perihal rumitnya mengurus paspor bepergian keluar negeri untuk tujuan Amerika Serikat. Ditampilkan berbagai karakter dengan berbagi alasan untuk datang ke Amerika. Dalam celetukan dialog tokoh tampak Amerika sebagai daerah yang superior yang selalu was-was menerima pendatang. Berbagai hambatan dialami orang-orang yang mengurus visa. Mulai dari persoalan nama yang berbau arab, yang dicemaskan sebagai teroris, apa keperluan ke Amerika, hingga seberapa besar dana yang dipunya untuk membuat visa. Amerika menjadi wacana retoris antar pelakon. Berbeda dengan dua lakon sebelumnya, lakon Visa lebih cair dalam suasana ringan dan dialog yang penuh humor.

Buku ini menarik untuk dikoleksi, terutama bagi anda peminat sastra, pendidik atau pekerja seni teater. Kalau anda seniman teater, alangkah menarik untuk mencoba membuat pertunjukkannya. Bukankah, nama Goenawan Mohamad sebagai penulis naskah adalah sebuah nilai tambah dan tantangan? Siapa berani? Buktikan.

Ilham Yusardi
Pekerja Sastra dan Teater
Berdomisili di Sarilamak

Selasa, 01 Februari 2011

Man jadda wajada


Man jadda wajada

Judul Buku : Negeri 5 Menara

Penulis : A. Fuadi

Tebal : xiii + 416 halaman

Cetakan : 2009

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Resensiator : Ilham Yusardi

“Man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh, akan dapat). Pertama kali saya mengenal pepatah arab ini dari judul sebuah tulisan Yusrizal KW beberapa bulan lalu. Saya menghayati pesan tulisan tersebut. Kekuatan, spirit yang dikandung dalam kalimat tersebut memang benar adanya. Apapun pekerjaan, sebenarnya tidak ada yang disebut susah. Kalau seseorang bersungguh-sungguh, dengan niat ikhlas, berikhtiar maksimal, menikmati proses yang dilewati, yakinlah, ada saja jalan yang terang. Hasil akhir serahkan pada Tuhan Yang Maha Berskenario

Kemudian, begitu novel ini saya cabut dari rak sebuah toko buku dan selesai saya baca, semakin bertambah lagi pemaknaan pepatah arab di atas. Pepatah itu juga menjadi kalimat utama dan pamungkas dalam novel Negeri 5 Menara (N5M) buah pena A. Fuadi ini.

Novel ini menceritakan kisah enam orang remaja tanggung yang menempuh pendidikan di Pondok Madani (PM), di sebuah kampung Ponorogo, Jawa Timur. Cerita bermulai dan seterusnya berpusat pada Alif santri anak urang awak dai nagari Bayur, di tepian dana Maninjau untuk meneruskan sekolah di PM. Di PM, ia berkawan karib dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Keenam santri itu kemudian disebut genk Sahibul Menara (orang yang memiliki menara), karena kebiasaan mereka yang sering berkumpul di bawah menara masjid sembari menunggu azan Magrib. Saat berkumpul itulah setiap anak berbagi mimpi dan harapan.

Di bawah menara mesjid PM, mereka membayangkan dan melukis mimpi mereka di langit. Alif membayangkan gundukan awan membentuk benua Amerika, benua yang diidamkan untuk ia jelajahi. Atang membayangkan daratan Afrika di arakan mega tersebut, tempat ia akan melanjutkan studinya setelah tamat di PM. Baso menggantung mimpinya untuk menghapal seluruh ayat Al-quran melihat gambaran benua Asia. Raja bersikeras bahwa ia melihat sebentuk peta Eropa. Said dan Dulmajid percaya yang menjunjung tinggi prinsip nasionalisme, percaya bahwa semua masih awan Indonesia.

Selanjutnya alur cerita berjalan linier dan standar, bab demi bab dibentangkan satu persatu berbagai peristiwa yang mereka alami selama di PM. Mulai dari hari pertama, menjadi jasus, menghapal alquran dan hadist, keharusan berbahasa arab dan Inggris, pertandingan sepak bola, proses belajar di kelas dan di kamar, menjadi wartawan sekolah, mengadakan nonton TV bareng, menjadi penjaga ronda, membuat pertunjukkan teater, membuat kaligrafi, hingga hari terakhir di PM yang haru biru. Semua cerita yang dibangun pengarang direkontruksi dari pengalaman langsung penulis dan shabatnya. Menariknya, semua cerita berjalan seru dan dramatis.

Sebagaimana yang dibayangkan, runutan jalan cerita N5M bisa diterka. Para Sahibul menara akhirnya dapat mencapai impian mereka. Atang menjadi mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Raja menetap di London setelah sebelumnya menyelesaikan kuliah hukum Islam di Madinah. Sedangkan Alif, yang merupakan representasi sang penulis, berkesempatan melanjutkan studi di Washington DC. Baso yang tidak menyelesaikan sekolah di PM karena harus merawat neneknya yang sakit, akhirnya bisa pula kuliah di Mekkah dengan bekal hafalan seluruh isi Al Quran. Begitu pula para pelukis awan Indonesia, Said dan Dulmajid, dua sahibul menara itu mencapai ujung mimpinya: pulang ke kampung halaman dan memajukan pendidikan di kampong masing-masing.

Cerita lika-liku kehidupan, proses keseharian semodel ini jamak terjadi. Namun, Latar tempat peristiwa cerita, yaitu pondok, juga menjadikan novel ini istimewa. Berangkat dari kisah nyata yang dialami pengarang, novel ini mampu membuka wawasan buat kita yang tidak mengenyam pendidikan pondok pesantren. Dengan mengikuti novel ini kita diajak mengetahui cara belajar di pondok yang terkenal super disiplin itu. Kemudian kita bisa mengetahui kelebihan pendidikan di pondok, seperti porsi belajar yang lebih, dan cara belajar yang berbeda yang diterapkan di sekolah umum.

Bagi mereka yang pernah nyantri di pesantren, mungkin serasa diajak bernostalgia dengan semua aktivitas pondok, suasana kebersamaan yang pernah mereka rasakan dulu. Bila belum mengenal pondok dan hanya mendengar melalui pemberitaan, maka, melalui mata tokoh Alif semua bisa tersajikan. Dengan kekuatan memori, A. Fuadi mampu membawa pembaca masuk menyaksikan dinamika kehidupan di pondok denagn detail. Namun, terasa tidak srek juga bila kita temui pikiran, argument atau pandangan penulis (A Fuadi) hari ini masuk menjajahi pikiran Alif masa remaja. Hal ini membuat Alif tampak terlalu ‘masak’ pemikirannya,

Yang membuat kita bertahan membaca dan terkesan dengan novel ini adalah letupan-letupan api motivasi yang muncul pada setiap tokoh. Misalnya dalam Amak, Ibu Alif yang sangat keras hati dan idealis. Bagaimana ia berani member Alif nilai kesenian asli ‘merah’ ketika Amak sendiri yang menjadi wali kelasnya. Kemudian ada Baso, yang sangat berambisi menghafal seluruh ayat alquran 30 juz. Belum lagi petuah-petuah berbhasa arab yang muncul sebagai penggerek spririt pembaca untuk meyakini kekuatannya, seperti saat Said, yang paling tua dari kelimanya, memotivasi teman-temannya dengan ucapan, ”Saajtahidu fauqa mustawal al-akhar, aku akan berjuang di atas rata-rata yang dilakukan orang lain. Yang membedakan orang sukses dan tidak adalah usaha. Perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia hanya 0,00 detik. Jarak juara renang dengan saingannya mungkin hanya satu ruas jari. Jadi, untuk menjadi juara dan sukses, kita hanya butuh usaha sedikit lebih baik dari orang kebanyakan”. Dan masih banyak lagi kalimat pemantik motivasi muncul dalam novel ini. Tentunya petuah khas pondok yang kental dengan nuansa Islam.

Namun lepas dari isi novel ini, ada fenomena semakin bercetak tebal dalam strategi kapitalisasi penerbitan buku akhir-akhir ini. Sebagai sebuah buku, Negeri 5 Menara, memperlihatkan betapa dominannya ukuran non-artistik dalam menilai kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Alangkah semakin penting instrumen ‘luar pagar’ dalam sebuah buku. Lihat saja, beberapa halaman di bagian akhir dan sampul belakang buku itu sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual, hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik saja dari novel tersebut. Komentar tersebut tidak satupun melihat dengan timbangan estetika dan sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteria utama dalam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi diperlukan? Atau Endorsement telah menjadi semacam ‘pembatisan’ kualitas sebuah karya sastra? Bacalah! Kalau Anda punya buku ini, ambil pena, Anda boleh menambah testimoni sendiri di bagian endorsement.

Ilham Yusardi