Kamis, 03 Februari 2011

Mengintip Pengantin Subuh

Mengintip  Pengantin Subuh

            Ada banyak penulis muda Sumatera Barat yang lahir bermunculan dalam satu dasawarsa terakhir ini. Ada banyak karya yang telah dilahirkan dan dipublikasikan. Salah satunya adalah Zelfeni Wimra, yang di tahun 2009 mencapai titik anjak yang penting, dikala berhasil mengumpulkan karyanya yang terserak dalam berbagai media dalam satu buku antologi cerita pendek (cerpen) yang dilabeli dengan Pengantin Subuh. Lebih dari itu, perlu pula kita syukuri dan kita semangati dengan masuknya buku antologi cerpen Pengantin Subuh dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 untuk kategori penulis muda berbakat.
            Oleh sebab itu pulalah ada baiknya kita mengintip lebih dekat cerpen-cerpen dalam pengantin subuh. Tulisan ini berusaha menguak lipatan-lipatan hikmah sastra yang termuat dalam Antologi tersebut.
            Karya sastra adalah produk budaya sebuah masyarakat. Dalam kacamata Sosiologi Sastra, dikatakan bahwa sebuah karya sastra tidak terlepas dari masyarakat yang melahirkannya, karena karya sastra menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. Dan pada satu titik, karya sastra, ia sendiri kembali memainkan fungsi kritisnya terhadap masyarakat yang melahirkannya.
             Begitu pulalah yang dapat dilihat dalam Antologi Cerpen Pengantin Subuh yang memuat 22 cerpen yaitu:  Madrasah Lumut, Bunga Dari Peking, Pengantin Subuh, Rumah Kayu Bersendi Batu, Perempuan Bau Asap, Induak Tubo, Saudara Sesusuan, Menjelang Subuh, Yang Terbungku-Bungkuk Di Halaman, Jalan Mati, Madah Anak Laut, Orang Kampung Hilang, Ibu Hujan, Negeri Air, Baju Berkancing Peniti, Ketan Durian, Wan Tulin, Pipit Tuai, Sepeda Malik Tumbang, Tamanni, Imam Sunyi, dan Yang Menunggu Di Hulu. Sebagian besar cerpen-cerpen tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat Minangkabau. Karakter tokoh yang hidup dalam karya tersebut dan latar budaya serta latar tempat terjadinya peristiwa sangat kental meninggalkan jejak alam Minangkabau, terutama Minangkabau wilayah darek.
            Orang Minang terkenal dengan budaya merantau. Perkara inilah yang menjadi persoalan utama sebagian besar cerpen yang termuat dalam Pengantin Subuh. Perihal perkara ‘rantau-merantau’ dapat kita telusuri dalam cerpen Pengantin Subuh, Rumah Kayu Bersendi Batu, Perempuan Bau Asap, Induak Tubo, Saudara Sesusuan, Menjelang Subuh, Yang Terbungkuk-Bungkuk Di Halaman, Ibu Hujan, Baju Berkancing Peniti, Ketan Durian, Wan Tulin, Pipit Tuai, Imam Sunyi, dan Yang Menunggu Di Hulu.  Pada cerpen-cerpen tersebut dibentangkan berbagai kisah perantau atau keluarga yang ditinggalkan dengan beragam masalah yang dialami.
            Pertama, kita lihat dulu sisi rantau dan problematika yang dimunculkannya. Cerpen Pengantin Subuh, mengisahkan bunuh diri tragis seorang perempuan tua (nenek si Aku), yang terpisah dari kekasih masa lalunya. Ia memilih hidup di rantau dengan seorang pemuda yang meminangnya. Pilihan merantau diakhir hayatnya menjadi sesal yang tak dapat dibuang oleh si nenek. Lalu ada Kisah Siti dalam cerpen Saudara Sesusuan yang dibesarkan di rantau. Siti menerima takdirnya tidak berjodoh dengan lelaki yang dicintainya, yang ternyata saudara sesusuan.  
            Kemudian bagaimana efek yang ditimbulkan dari pola merantau yang dilakukan tokoh terhdap kampun atau orang yang ditinggalkan? Kita bisa telusuri dalam cerpen Perempuan Bau Asap, yang mengisahkan ibu ditinggal anaknya demi mengejar impian sebagai bintang televisi di ibukota. Ada pula kisah Odang Niro dalam Induak Tubo, perempuan tua yang tidak punya keturunan perempuan, dan ditinggal pergi merantau oleh semua anak laki-lakinya. Cerpen Yang Terbungku-Bungkuk Di Halaman, menceritakan tentang orang tua yang selalu mendapat firasat risau  tentang anaknya merantau. Situasi tragis yang terjadi di kampung sebagai ruang yang ditinggalkan terjadi dalam cerpen Imam Sunyi. Alifdal, pemuda yang memilih hidup di kampung  merasa frustasi dengan kondisi kampungnya. Ia frustasi mendapatkan mesjid sepi dari jemaahnya, sawah sepi dari petaninya,     
            Tapi yang menggelitik pikiran kita tentang perkara ‘rantau-merantau’ dalam Pengantin Subuh ini adalah: Apakah dengan sadar naluri merantau orang Miang hanya dibolehkan tumbuh dalam jiwa laki-laki, yang seakan disunahkan untuk pergi merantau? Bahkan dimuat dalam mamangan: karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di kampuang paguno alun. Sedangkan para perempuan Minang ‘diharamkan’ untuk merantau. Mengapa ini terjadi? Setidaknya kita bisa menguak problem ini dalam cerpen Menjelang subuh, yang menceritakan rencana pelarian gadis bernama Daro, atau dalam Ibu Hujan, yang menceritakan seorang ibu yang berhiba hati ditinggal pergi anaknya untuk bekerja ke luar negeri. Lain pula dengan cerpen Pipit Tuai yang dengan simbolik meletakkan perantau sebagai sosok burung Pipit Tuai yang malang, yang telah dikecoh oleh burung-burung lain, yang terserak dalam berkembang biak.
            Pernik dan klenik, mitos-mitos perihal merantau pun tak lupa hadir dalam cerpen. Sebutlah, ada kepercayaan sebagian masyarakat darek bahwa jika ketuban bayi dihanyutkan maka anaknya nanti akan jadi perantau. Akan hidup jauh dari kampung halaman. Dan sebaliknya jika dikuburkan dekat rumah, si anak nantinya akan hidup tak jauh dari kampung.
            Perdebatan ‘rantau-merantau’ dalam beberapa cerpen Pengantin Subuh menempatkan wilayah rantau sebagai medan pertarungan eksistensi tokoh, baik perantau maupun calon perantau. Rantau sebagai dikotomis dari kampung menjadi wilayah yang dipertanyakan keberadaan dan fungsinya. Rantau dalam beberapa pikiran beberapa tokoh dibayangkan sebagai surga yang mesti didatangi. Hal ini menjadikan wilayah rantau sebagai ruang yang superior dan kampung sebagai sisi inferiornya. Merantau yang dilakukan dengan pola urbanik memunculkan dikotomi yang kuat antara kota (rantau) dengan desa (kampung). Dikotomi kota-desa mau tidak mau menyeret dikotomi moderen-tradisional, industrialis-agraris. Rantau yang superior, diasumsikan mampu mewujudkan mimpi para tokohnya, sedangkan desa merupakan ruang inferior yang dianggap terbelakang dan udik. Puncaknya pengarang mencurahkan pandangannya dalam cerpen Ibu Hujan, di dalam narasi  berikut:
            Memang. Ada temannya, setelah berhasil menetap di tempat itu (pen: rantau) dan tidak tertarik lagi untuk pulang. Kadang iba hati, mengakui kalau berlama-lama di rumah dan berkeliaran sekitar kampung halaman tidak memberi apa. Negeri kita tidak menarik untuk ditinggali dan diresapi. Kita ini, Hujan. Begitu cara mereka berpikiran. Mungkin itu keluhan. Bisa jadi juga pemberontakan. Atau, barangkali, itulah pengkhianatan. (Ibu Hujan: 106). Narasi di atas  seakan posisi yang sedang dipijak pengarang, menjadi titik tengah pandangan pengarang dalam melihat rantau dan kampung yang ditinggalkan.
            Kemampuan dan ketekunan pengarang merekam, mengingat dan mencatat berbagai persoalan sosial, peristiwa sejarah, klenik realita kehidupan menjadi modal bahan cerita yang tak pernah habis, terutama dari lingkungan kampung halaman pengarang. Sejarah perjuangan PDRI, sejarah komunis, gambaran sosiografis masyarakat Minangkabau darek dengan kebiasaan yang dilakukannya—seperti keseharian masyarakat perkebunan memungut buah ambacang di pagi subuh. Modal tersebut diolah menjadi kisah dramatis yang memikat untuk dibaca. Sebut saja kisah klenik Orang Kampung Hilang, yang dialirkan dalam sejarah PDRI di pedalaman Sumatera Barat. Persoalan matrilineal dipermasalahkan dengan cara yang unik dalam Rumah Kayu Bersendi Batu.  Dalam cerpen ini dikisahkan seorang perempuan tuna rungu, Mora, yang tidak menempuh pendidikan dan tidak pula mengetahui—karena tidak diajarkan—sistim matrilineal dalam masyarakat Minangkabau. Menurut saya cerpen ini sangat baik. Menarik dalam gaya bercerita, dan apik susunan strategi bercerita. Penulis meletakkan ‘bom waktu’ yang mengejutkan di akhir cerita. Ledakan sangat kuat sehingga begitu cerita selesai gema pukau cerita masih mengendap di pikiran. Ada pula cerpen Madrasah Lumut, yang secara umum menyiratkan persoalan streotipe negatif radikal terhadap pendidikan Islam, yang tanpa sengaja melekat pada institusi pendidikan Islam semacam madrasah atau pesantren. ‘Lumut’ menjadi clue bagi kita untuk membuka realitas yang disimbolkannya. Lumut tak lain adalah proses penghancuran/ pengkebiri  institusi pendidikan Islam.
            Dalam Bunga Dari Peking,  kita disuguhkan cerita yang  berangkat dari sejarah perkembangan komunisme di pedalaman. Komunisme yang mengusung atheis di lemparkan dengan penuh keriangan dan humor. Bunga semacam simbolik buat dialektika iman dan teologis. Yang menarik dari cerita ini adalah adegan si kakek ketika temannya, Yasin membaca Alquran. Ia bergetar tiada terkira. Hal ini membeberkan surat Al-Anfaal  ayat 2 yang mengatakan bahwa: Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.
            Cerpen Negeri Air merupakan cerita yang secara simbolis membeberkan sifat buruk sorang anak manusia bernama Pamenan. Ia telah membesar-besarkan, mengharum-harumkan negerinya kepada relasi bisnisnya. Ia memberikan gambaran fiktif (dusta) pada mitranya. Kampung yang ia banggakan ternyata tidak sesuai dengan fakta yang ada. Diakhir cerita ia mengalami depresi dan ditolak realitas sendiri. Cerpen ini merupakan cerita yang sangat baik. Gaya bercerita tenang dan apik dan kembali meletakkan ‘bom’ yang mengejutkan di akhir cerita. Ada juga cerpen Wan Tulin, yang mengajak kita menyelami kegilaannya. Melihat pergulatan, lika-liku hidup Wan Tulin dengan segala keterbatasan akalnya, membuat kita berdebat sendiri dengan pertarungan waras atau tidak waras akal manusia. Dialog antara Wan Tulin dengan Buyung menggelitik pikiran kita sebagai pembaca. Pemasungan Wan Tulin dan keadilan menjadi perdebatan seru, yang mempertanyakan seberapa humaniskah kita. Apakah layak bagi orang waras di kampung itu memasung Wan Tulin yang gila hingga lumpuh? Itu pertanyaan yang muncul sesudah membaca cerpen ini. Ucapan-ucapan yang ditulis Wan Tulin pun meminta kewarasan akal kita untuk merenungi kemanusiaan. Diakhir cerita sebuah pertanyaan Wan Tuli: “Jang, kalau kopral benar-benar sudah mati dan wan tulin juga mati, apakah kami bisa bertemu?” itulah kalimat yang terakhir ditulis wan tulin sebelum ia menangis dalam hidupnya. Membuat Ujang(kita) yang waras terkejut dan takjub.
            Ketelatenan pengarang menampilkan karakter-karakter yang kuat patut pula kita banggakan. Kita bisa melihat keunikan manusia, orisinilitas karakter  Wan Tulin, Mora yang tuna rungu, Siti, Malik Tumbang, Pamenan dalam Negeri Air, Kakek dalam Bunga Dari Peking, Bapak dalam Ketan Durian, dan lainnya. Masing-masing karakter dengan lugas dan keunikannya mampu menghidupkan narasi. Kemampuan menampilkan karakter yang kuat dengan persoalan masing-masing yang dialami ini tentu tidak terlepas dari pergaulan, pengamatan, penyerapan langsung pengarang terhadap lingkungan  sosialnya.
            Namun, pada beberapa cerpen, dari peninjauan saya, tampak pula kelonggaran dalam mengolah bahan dan penyusunan strategi bercerita. Misalnya, cerpen Pengantin Subuh yang menyajikan riwayat cinta sejati seorang perempuan yang mengalami ‘kasih tak sampai’ kepada Din. Cerita dialirkan dalam lorong waktu yang bernama surat. Surat sebagai artefak yang ditinggalkan untuk membaca riwayat  si nenek. Selepas itu nenek diketahui bunuh diri. Cerpen ini belum memberikan alasan yang kuat mengapa si nenek bunuh diri. Bunuh diri semacam simbolik jalan keluar kebuntuan terhadap persoalan duniawi yang menekan kejiwaan si nenek. Padahal bahan cerita (ide), esensi yang disimpan dalam cerita tersebut sebetulnya sangat hebat.
            Begitu pula yang terlihat dalam cerpen Imam Sunyi, ide cerpen ini sangat bagus, memaparkan kondisi mesjid atau mushala di kampung-kampung yang lengang dari jemaah, hal demikian memang terjadi saat ini. Rumah ibadah sering kosong melompong saat tiba waktunya shalat. Sayang menurut peninjauan saya, akhir cerita dengan percobaan bunuh diri yang dilakukan Alifdal terlalu jauh lompatannya. Saya coba membandingkan percobaan bunuh diri yang dilakukan Alifdal  dengan bunuh diri yang berhasil dilakukan Kakek Garin dalam cerita Robohnya Surau Kami karya A. A Navis. Tapi tampak tidak sebanding dilema yang dihadapi kedua tokoh tersebut. Alifdal dalam Imam Sunyi dalam cara pikir sederhana terlalu naif melakukan percobaan bunuh diri hanya karena tidak adanya jemaah di mesjid. Meski pengarang mencoba menempatkan peristiwa pecobaan bunuh diri tersebut sebagai status quo, dengan melemparkan cerita pada temannya (pembaca). Tapi strategi bercerita berbingkai tersebut cenderung sebentuk kebuntuan dan pelarian plot.
            Hal demikian juga terjadi pada cerpen Jalan Mati, Tamanni, dan Saudara Sesusuan. Ide cerita sangat bagus, namun cerita berjalan datar. Disini kita tidak menemukan titik konflik yang kuat untuk mempertahankan greget cerita. Dalam Saudara Sesusuan misalnya, Konflik dalam diri tokoh Siti terselesaikan dengan sewajarnya. Persoalan saudara sesusuan yang dalam syariat Islam dianggap sebagi saudara semuhrim, saudara yang tidak dapat dikawini seperti yang temuat dalam surat Annisa ayat 23.
            Bahasa merupakan sarana utama bagi pengarang untuk menuturkan cerita. Selain mempunyai ide cerita yang menarik, seorang penulis harus juga menguasai kemampuan berbahasa yang baik. Kemampuan berbahasa tidak dapat dibuat-buat. Bahasa seorang penulis yang ‘matang’ akan lekat kemudian mengental sebagai identitas, sidik jari pengarang. Sebutlah, bahasa dan gaya bercerita almarhum A.A. Navis berbeda dengan  bahasa dalam cerpen Harris Effendi Tahar. Begitu pula dengan bahasa dan gaya bercerita Yusrizal KW berbeda dengan gaya bercerita Gus Tf. Dari pemaham ini, sejauh pengamatan saya, bahasa dan gaya bercerita pengarang Pengantin Subuh cukup lugas menyampaikan esensi, dan lembut bernarasi. Kemampuan puitika yang kuat menjadi modal pengarang untuk terus mengeksplorasi bahasa. Namun, di beberapa cerpen bahasa ritmis dan liris yang dicoba pengarang terkadang menutup inti narasi itu sendiri. Hal tersebut dapat kita lihat dalam cerpen Ibu Hujan, yang semula bermain dalam gaya surealisme. Namun gaya ini agak sedikit longgar karena cara berbalik dalam arus persitiwa cerita. Hujan terkatung-katung sebagai simbol subjek dalam arus surealis dan Hujan sebagai persona dalam peristiwa cerita. Begitu pula dalam cerpen Yang Menunggu Di Hulu, Sebuah cerpen bergaya prosa liris. Berkelindan dalam lirisnya bahasa sajak. Disini pengarang mempertaruhkan kemampuan bersyairnya untuk mengalirkan  impresi  tokoh. Selain di dua cerpen di atas, gaya bahasa ritmis dan liris ini juga terdapat dalam beberapa bagian cerpen Pengantin Subuh, Saudara Sesusuan, Negeri Air, Dan Tamanni. Gaya bahasa ini cukup beresiko tenggelamnya narasi atau hilangnya pesan, informasi sebuah kalimat dalam ke-tidak-langsung-an bahasa. Maka, sejauh tinjauan saya dari satu cerpen ke cerpen lain, belum terlihat bahasa sebagai identitas kepengarangan Zelfeni Wimra.
            Terlepas dari timbangan dan tinjauan di atas, kita patut mensyukuri bahwa Sumatera Barat tidak pernah kekurangan karya sastra bermutu. Setiap masa ada saja yang tumbuh  dan bertahan dalam proses kreatifnya. Tentang penghargaan-penghargaan yang didapat dari bersastra bukanlah tujuan utama. Tujuan utama adalah mendadarkan hikmah. Hal ini telah dilakukan pengarang Pengantin subuh. Selamat, dan semoga mendapat yang  terbaik!  

Ilham Yusardi
Pekerja sastra
Berdomisili di Tanjung Pati Lima Puluh Kota

Tidak ada komentar:

Posting Komentar