Selasa, 01 Februari 2011

Man jadda wajada


Man jadda wajada

Judul Buku : Negeri 5 Menara

Penulis : A. Fuadi

Tebal : xiii + 416 halaman

Cetakan : 2009

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Resensiator : Ilham Yusardi

“Man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh, akan dapat). Pertama kali saya mengenal pepatah arab ini dari judul sebuah tulisan Yusrizal KW beberapa bulan lalu. Saya menghayati pesan tulisan tersebut. Kekuatan, spirit yang dikandung dalam kalimat tersebut memang benar adanya. Apapun pekerjaan, sebenarnya tidak ada yang disebut susah. Kalau seseorang bersungguh-sungguh, dengan niat ikhlas, berikhtiar maksimal, menikmati proses yang dilewati, yakinlah, ada saja jalan yang terang. Hasil akhir serahkan pada Tuhan Yang Maha Berskenario

Kemudian, begitu novel ini saya cabut dari rak sebuah toko buku dan selesai saya baca, semakin bertambah lagi pemaknaan pepatah arab di atas. Pepatah itu juga menjadi kalimat utama dan pamungkas dalam novel Negeri 5 Menara (N5M) buah pena A. Fuadi ini.

Novel ini menceritakan kisah enam orang remaja tanggung yang menempuh pendidikan di Pondok Madani (PM), di sebuah kampung Ponorogo, Jawa Timur. Cerita bermulai dan seterusnya berpusat pada Alif santri anak urang awak dai nagari Bayur, di tepian dana Maninjau untuk meneruskan sekolah di PM. Di PM, ia berkawan karib dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Keenam santri itu kemudian disebut genk Sahibul Menara (orang yang memiliki menara), karena kebiasaan mereka yang sering berkumpul di bawah menara masjid sembari menunggu azan Magrib. Saat berkumpul itulah setiap anak berbagi mimpi dan harapan.

Di bawah menara mesjid PM, mereka membayangkan dan melukis mimpi mereka di langit. Alif membayangkan gundukan awan membentuk benua Amerika, benua yang diidamkan untuk ia jelajahi. Atang membayangkan daratan Afrika di arakan mega tersebut, tempat ia akan melanjutkan studinya setelah tamat di PM. Baso menggantung mimpinya untuk menghapal seluruh ayat Al-quran melihat gambaran benua Asia. Raja bersikeras bahwa ia melihat sebentuk peta Eropa. Said dan Dulmajid percaya yang menjunjung tinggi prinsip nasionalisme, percaya bahwa semua masih awan Indonesia.

Selanjutnya alur cerita berjalan linier dan standar, bab demi bab dibentangkan satu persatu berbagai peristiwa yang mereka alami selama di PM. Mulai dari hari pertama, menjadi jasus, menghapal alquran dan hadist, keharusan berbahasa arab dan Inggris, pertandingan sepak bola, proses belajar di kelas dan di kamar, menjadi wartawan sekolah, mengadakan nonton TV bareng, menjadi penjaga ronda, membuat pertunjukkan teater, membuat kaligrafi, hingga hari terakhir di PM yang haru biru. Semua cerita yang dibangun pengarang direkontruksi dari pengalaman langsung penulis dan shabatnya. Menariknya, semua cerita berjalan seru dan dramatis.

Sebagaimana yang dibayangkan, runutan jalan cerita N5M bisa diterka. Para Sahibul menara akhirnya dapat mencapai impian mereka. Atang menjadi mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Raja menetap di London setelah sebelumnya menyelesaikan kuliah hukum Islam di Madinah. Sedangkan Alif, yang merupakan representasi sang penulis, berkesempatan melanjutkan studi di Washington DC. Baso yang tidak menyelesaikan sekolah di PM karena harus merawat neneknya yang sakit, akhirnya bisa pula kuliah di Mekkah dengan bekal hafalan seluruh isi Al Quran. Begitu pula para pelukis awan Indonesia, Said dan Dulmajid, dua sahibul menara itu mencapai ujung mimpinya: pulang ke kampung halaman dan memajukan pendidikan di kampong masing-masing.

Cerita lika-liku kehidupan, proses keseharian semodel ini jamak terjadi. Namun, Latar tempat peristiwa cerita, yaitu pondok, juga menjadikan novel ini istimewa. Berangkat dari kisah nyata yang dialami pengarang, novel ini mampu membuka wawasan buat kita yang tidak mengenyam pendidikan pondok pesantren. Dengan mengikuti novel ini kita diajak mengetahui cara belajar di pondok yang terkenal super disiplin itu. Kemudian kita bisa mengetahui kelebihan pendidikan di pondok, seperti porsi belajar yang lebih, dan cara belajar yang berbeda yang diterapkan di sekolah umum.

Bagi mereka yang pernah nyantri di pesantren, mungkin serasa diajak bernostalgia dengan semua aktivitas pondok, suasana kebersamaan yang pernah mereka rasakan dulu. Bila belum mengenal pondok dan hanya mendengar melalui pemberitaan, maka, melalui mata tokoh Alif semua bisa tersajikan. Dengan kekuatan memori, A. Fuadi mampu membawa pembaca masuk menyaksikan dinamika kehidupan di pondok denagn detail. Namun, terasa tidak srek juga bila kita temui pikiran, argument atau pandangan penulis (A Fuadi) hari ini masuk menjajahi pikiran Alif masa remaja. Hal ini membuat Alif tampak terlalu ‘masak’ pemikirannya,

Yang membuat kita bertahan membaca dan terkesan dengan novel ini adalah letupan-letupan api motivasi yang muncul pada setiap tokoh. Misalnya dalam Amak, Ibu Alif yang sangat keras hati dan idealis. Bagaimana ia berani member Alif nilai kesenian asli ‘merah’ ketika Amak sendiri yang menjadi wali kelasnya. Kemudian ada Baso, yang sangat berambisi menghafal seluruh ayat alquran 30 juz. Belum lagi petuah-petuah berbhasa arab yang muncul sebagai penggerek spririt pembaca untuk meyakini kekuatannya, seperti saat Said, yang paling tua dari kelimanya, memotivasi teman-temannya dengan ucapan, ”Saajtahidu fauqa mustawal al-akhar, aku akan berjuang di atas rata-rata yang dilakukan orang lain. Yang membedakan orang sukses dan tidak adalah usaha. Perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia hanya 0,00 detik. Jarak juara renang dengan saingannya mungkin hanya satu ruas jari. Jadi, untuk menjadi juara dan sukses, kita hanya butuh usaha sedikit lebih baik dari orang kebanyakan”. Dan masih banyak lagi kalimat pemantik motivasi muncul dalam novel ini. Tentunya petuah khas pondok yang kental dengan nuansa Islam.

Namun lepas dari isi novel ini, ada fenomena semakin bercetak tebal dalam strategi kapitalisasi penerbitan buku akhir-akhir ini. Sebagai sebuah buku, Negeri 5 Menara, memperlihatkan betapa dominannya ukuran non-artistik dalam menilai kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Alangkah semakin penting instrumen ‘luar pagar’ dalam sebuah buku. Lihat saja, beberapa halaman di bagian akhir dan sampul belakang buku itu sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual, hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik saja dari novel tersebut. Komentar tersebut tidak satupun melihat dengan timbangan estetika dan sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteria utama dalam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi diperlukan? Atau Endorsement telah menjadi semacam ‘pembatisan’ kualitas sebuah karya sastra? Bacalah! Kalau Anda punya buku ini, ambil pena, Anda boleh menambah testimoni sendiri di bagian endorsement.

Ilham Yusardi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar