Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

Julo-julo Incim

Cerpen Ilham Yusardi


(I)
Upik Uban tegak mematung di depan daun pintu rumah Incim. Tak yakin, tapi dikeraskan juga hatinya mengetuk pintu.
“Assalamualaikum…, Incim!” Suara Parau keringnya bergelegar.
“Ya…, tunggu. Siapa?” Sipongang suara teredam ruangan rumah. Tak lama, ringkik daun pintu terkuak, seiring muncul perempuan paruh baya, dengan pakaian rumah seadanya.
“Eee, Upik Uban kiranya. Kabar apa, Pik? Lama tak hinggap kau ke sini. Ayo masuk” Incim menyila Upik Uban untuk duduk. Upik Uban melangkah masuk. Beberapa langkah, dengan sedikit sungkan, Upik Uban melorotkan badannya di sofa yang masih berbungkus plastik.
“Baru sofa, Ncim?” Celetuk Upik Uban, membuka obrolan.
“Seminggu. Tukar tambah,” Jawab Incim sekenanya. Bergegas Incim ke belakang. Upik Uban terkesan dengan ruang itu. Tiga meter dari tempat ia duduk, tivi layar datar tipis seakan lekat ke dinding. Kiri-kananya berdiri speker berhias bunga anggrek plastik. Di sudut antara sofa berdiri guci keramik setinggi orang, bertuliskan kaligrafi.
Dinding kiri tertempel pigura cantik, foto Incim dan suami tersenyum seukuran tivi. Pohon anggur plastik, menjalar, berjuntai-juntai di pembatas ruang yang terbuat dari rotan. Kaki Upik Uban pun tak bisa membutakan permadani Turki yang tebal dan empuk. Kulit Upik Uban termanjakan oleh udara sejuk yang disebar pendingin ruangan. Upik Uban menelan ludah pekatnya.
Incim keluar dengan napan stainnless steel mengkilap. Di atasnya toples dan sebuah gelas kristal bertangkai tinggi, berisi air berwaran kuning pekat (mungkin sirup mahal pikir Upik Uban).
“Senang kau kini, Ncim” Tukas Upik Uban, matanya memperhatikan gerik Incim yang ringan.
Incim tersenyum lepas, bersambung tawa kecil. “Alah, kau bisa saja. Ada paha ada kaki, ada usaha ada rejeki. Iya, kan. hehehe?” Incim membuka tutup toples kristal. Tampak kue kering berwarna cokelat bertabur kacang mete dan kismis.
“Silahkan dimakan kuenya, Pik!”
Upik Uban merogoh sekeping kue dari botol. Incim sibuk pula memencet remot tivi. Seketika tivi menyala. Cahaya berlepasan meneranggi ruangan. Gambarnya sangat jernih. Suaranya bombastis menggeletarkan jantung Upik Uban. Di tivi tampak gambar seorang ustad kondang berceramah penuh semangat. Kemudian tertera judul tayangan ‘Kala Mayit Tak diterima Tanah’. Incim mencet remot lagi. Merendahkan volume suara tivi.
“Apa kabar, Pik” Sahut Incim ringan saja. Upik Uban terdiam, tersadar dari tatapan ke tivi.
“Anu, Ncim. Kalau boleh, awak mau ikut julo-julo tembak lagi dengan Incim. Lagi butuh uang. Terdesak, Ncim. Keadaan, Ncim. Kredit motor Uda jatuh tempo. Sebulan menunggak. Kemarin sudah ke rumah orang dealer, Ncim. Tadi pagi juga. Katanya kalau besok tidak juga dibayar, motor akan ditarik. Kalau motor ditarik, Ncim, uda awak tidak bisa narik ojek lagi. Kalau uda tidak ngojek lagi, Ncim, dengan apa belanja harian awak, susu anak awak. Itulah yang membuat awak kalampasiangan, Ncim.” Panjang lebar bercerita, tersendat-sendat antara sebak dada, dijelaskan jua niatnya pada Incim. Incim dengan mudah mengerti situasi.
“Saya paham, Pik. Bagi saya tidak masalah. Tapi saya tidak ingin lagi Upik seperti yang sudah sudah. Kalau bisa bayar harian julo-julonya rutin. Biar tidak tambah susah kau. Biar cepat tamatnya”
“Iya, Ncim. Jadi”
“Julo-julo berapa yang mau kau ikut.” Lanjut Incim seraya menggaruk daki di lehernya. Upik Uban melihat kalung Incim begerincingan begitu tangan incim menyentuh leher. Mainannya batu permata sebesar kepala sendok berkilau, meyilau mata Upik Uban begitu terkena pantuan cahaya tivi.
“Yang hariannya sepuluh ribu saja, Ncim”
“Jadi, kau mau ambil julo-julo tembak sejuta”
“Iya, Ncim” Angguk Upik Uban tegas.
“Baiklah. Kau kutembakkan kenomor satu. Kau bisa dapat uang sekarang. O, ya, kau sudah tahu kan aturan julo-julo harian ini?
“Sudah, Ncim” Angguk Upik Uban cepat. Incim pun bergegas masuk ke dalam kamarnya. Terurai jugalah awan mendung yang galaukan hati upik Uban dua hari ini.
Upik uban tentu sudah tahu betul aturan main julo-julo harian itu. Ia ambil julo-julo tembak satu juta rupiah. Nantinya akan dibayar rutin perharinya sepuluh ribu rupiah selama seratus sepuluh hari. Sepuluh hari terakhir orang kampungnya menyebut hari pencabik kartu. Entah siapa yang menetapkan undang-undang itu, sudah ada begitu saja turun temurun. Sepuluh hari itulah upah balas jasa orang menjalankan (kepala) julo-julo yang dijemput dari kerumah setiap harinya.
Incim keluar dengan beberapa uang bergambar Pak Sukarno dan Pak Hatta. “Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan…, ini Pik. Sembilan ratus ribu rupiah. Seratus ribu dipotong untuk mengisi sepuluh hari pertama” Uang diulurkan ke arah Upik diletakkan di sudut meja, di hadapan lutut Upik. Lalu, Incim sibuk pula membubuhi tanda paraf sepuluh baris di kolom pertama kartu julo-julo baru. Tiap-tiap paraf itu kemudian dicap pula dengan stempel sebesar ujung telunjuk. Kartu diserahkan ke Upik.
“Terima kasih sekali. Awak Pulang dulu, Ncim”
Upik Uban bisa lagi tersenyum.
Incim Pun tersenyum.

(II)
Sore, langit tersapu jingga dari semburat matahari siang menjelang sore. Sepeda motor bebek Ujang Balam—pembawa motor pribadi Incim dalam menjemput julo-julo dari pintu ke pintu—berhenti di halaman sebuah rumah kayu lama. Suara knalpot modifikasi sepeda motor Ujang Balam yang keras dan khas, sudah hafal oleh telinga perseta julo-julo. Incim turun, melangkah menghampiri pintu. Sebelum sampai di pintu, dua orang bocah melongokkan mukanya yang berkabut risau.
“Ibu di Rumah Sakit, Etek” Ujar bocah menyela suara kelotak sepatu Incim.
“Rumah Sakit? Siapa yang sakit” Kalimat tanya itu habis di pintu. Incim menguakkan pintu lebar-lebar, melongok ke dalam rumah. Sepi.
“Ayah, Etek. Tadi pagi sepulang dari sawah, tangan kanan, kaki kanan ayah tidak bisa lagi digerakkan. Uda Pudin melarikannya ke Rumah sakit”
“Stroke?!” Incim tersentak, seakan tidak Percaya.
“Entahlah. Ani ndak tahu, Tek” Ucapan Ani yang terakhir itu bersibuah dengan sebak. Ani berusaha menyeka cairan hangat yang terbit di sudut matanya.
Incim mundur. Mengusap kedua kepala anak itu. Ia menarik nafas, kemudian melangkah ke arah motor Ujang Balam.
Imar, Ibu kedua bocah itu ikut julo-julo incim rutin, putus sambung. Dua puluh ribu sehari. Menerima dua juta. Uang cabutan sudah diambil untuk mengganti atap rumah yang semula rumbia dengan seng. Sekarang tinggal melunasi sepuluh hari Pencabik kartu saja lagi.

(III)
“Naik haji?”
“Iya”
“Kata Siapa?”
“Incim sendiri yang bilang begitu pada saya.” Buk Siar, penuh semangat meyakinkan Buk Yet akan informasinya.
Tangan mereka terus juga memilih terung yang teronggok di meja lapau Buk Mur. Sedari tadi pilih-memilih terung itu tak kunjung selesai. Obrolan lebih semangat. Awalnya cuma perkara garin mesjid yang baru suaranya merdu mengumandangkan azan. Beralih ke Artis Marcella Zalianty masuk penjara. Lalu pindah pula soal Syekh Puji nikahi perempuan bawah umur. Bergeser lagi tentang derita Upik Uban yang suaminya ditangkap polisi karena menjual kupon putih. Entah siapa yang mulai, tersedak saja obrolan itu pada Incim yang konon akan pergi haji tahun ini.
“Eh, Buk” lanjut Buk Siar mencolek bahu Buk Yet, kemudian merapatkan muncung ke telinga Buk Yet, “Kalau Incim naik haji, sah nggak sih?”
“Kenapa?” Tanya itu berbalik ke Buk Siar.
“Julo-julo itu, eng, anu. Riba kan?” Mereka kemudian terdiam. Saling pandang.
“Yang mana terungnya Buk?” Sahut Buk Mur, pemilik lapau. Menyentak kesadaran meraka.

(IV)
Incim setengah hati turun dari motor. Cerah langit sore hari itu ak senada dengan kesumat galau yang membalut hati Incim. Sudah sepuluh lebih rumah yang ia singgahi. Belum ada hasil sama sekali. Parahnya, orang-orang yang tak bisa ditagih itu justru peserta dengan jumlah yang besar. Mak Lena, juragan beras, yang ikut putaran lima puluh ribu perhari, tidak di rumah. Kata tetangganya, Mak Lena pergi ke Muaro Kalaban, ke rumah anaknya, meyelenggarakan aqiqah cucunya. Upik Sela, yang ikut dua puluh ribuan perhari, tidak bisa bayar hari ini. Janji bayar besok dobel. Mintuo Taci, yang tak lain adalah istri mamaknya, juga minta ditunggak tiga hari kedapan.
Jelang Tanggal satu. Incim maklum, Uwan, mamaknya itu PNS di Dinas Kebersihan Pasar. Upik Uban kembali berulah dengan gaya lamanya. Alasannya kini: udanya masih di kantor polisi. Belum ada kepastian kapan akan keluar.
Incim berjalan menghampiri pintu rumah Ita Kamek. Ita Kamek sudah berdiri dengan mengibarkan tiga lembar uang ribuan dan kartu julo-julo yang sudah lecek. Ita Kamek seangkatan dengan Incim. Lawan barek Konco Arek, kata orang. Sedari kecil mereka sudah bermain, bergaul bersama. Sama mengaji, sama sekolah TK, SD, SMP, sampai SMEA mereka tetap sama.
“Jadi Kau naik haji, Ncim” Selorohan setengah kelakar itu keluar lebih dulu daripada uang julo-julo beralih ke tangan Incim. Incim mengambil uang itu tanpa peduli dengan pertanyaan Ita Kamek. Dicabiknya kasar kartu julo-julo. Memang julo-julo Ita Kamek tamat dengan uang tiga ribu itu.
“Jadi, Ncim?” Ita Kamek meninggikan nada suaranya. Bertanya serius. Ia tak melihat gelagat gusar dan kerut di kening Incim.
“Eee, Nyinyir! Ndak usah banyak sigi kau lah. Ikut tiga ribu, cuma.” Akhirnya tertumpah jua kegusaran Incim.
Suasana antara keduanya jadi tegang. Dihamburkan sobekan kartu ke arah Ita Kamek. Lalu secepatnya balik kanan, melangkah ke arah jalan.
“Eh, Ncim. Tiga ribu kali sejuta berapa, ha? Tiga-ribu-juta! Tiga milyar! Cukup untuk kau naik haji tujuh kali berturut!” Ita Kamek tak terima pula ia disengat mulut Incim.
“Awas Kau, ya!” Dihentikan langkah. Ditunjuk kidalnya Ita kamek dengan geram.


(V)
Cahaya yang disemburkan layar televisi berkilasan, kerjap-kerjapan menerpa ruangan itu. Sebentar-terkilas jam dinding besar, menujukkan angka enam lewat pada jarum pendeknya. Sebentar-terkilas cahaya televisi menyapu foto sepasang suami istri yang besar, menyeka guci keramik besar yang berdiri di kiri kanan. Berkilasan menjelaskan kembang anggur plastik yang terjuntai di pembatas ruangan. Pada saat tertentu cahaya yang bersemburat dari televisi menerangi tubuh yang tergolek di sofa yang masih berplastik itu.
Suara dari speker tivi yang berdiri di kiri kanan hanya sekedarnya saja. Tidak menggangu telinga perempuan yang tergolek di sofa panjang. Suara tivi tak ubahnya rintih pedih dari sebuah dunia lain. Terlihat gambar pejabat menteri ekonomi dikerubuti wartawan dalam persoalan krisis keuangan global. Kemudian beralih pada gambar gedung-gedung Bank yang terancam bangkrut. Gambar bursa efek Jakarta yang terpaksa ditutup. Sungguh perempuan paruh baya itu tiada pula mengerti dan tak bersangkut-soal dengan tayangan itu. Kemudian tayangan itu berhenti pada tulisan huruf kapital di layar telveisi: Menantikan azan Magrib.
Azan Magrib berkumandang lamat-lamat lirih dari kedua speker. Tivi menampakkan gambar orang-orang berangkat menuju masjid. Ada tulisan arab dan latin lafalan azan di layar seiring kumandang azan.
Langit makin kelam. Matahari mulai berpejam. Lampu ruangan belum juga dinyalakan. Sesekali percikan cahaya yang bersemburat dari tivi jatuh di tubuh perempuan itu. Ia tidur dengan pergelangan menyilang di atas kening. Kiri dan kanan kening perempuan itu masing-masing ditempeli koyo cabe.
“Hayyalal fallah….” Suara dari tivi itu terlalu lamat, terlalu pelan, mungkin tak sampai menyentuh gendang telinga perempuan yang rebah kuda di sofa itu.

Dipublikasikan pertama kali di Harian Padang Ekspres

KAUM


Cerpen: Ilham Yusardi

            Pak Uwir turun dari kuda-kuda yang belum jadi itu dengan hati-hati. Kayu kuda-kuda itu tidak terlalu besar. Maklumlah, rencananya rumah ini hanyalah bertipe Rumah Sangat Sangat Sederhana Sekali Sehingga Selonjoran Saja Susah (RSSS...). Kalau tidak mau di bilang gubuk, rumah ini hanyalah rumah biasa yang jauh dari kontruksi standar sebuah bangunan. Tidak ada pondasi yang digalikan kedalam tanah, tidak ada besi-besi beton cakar ayam. Kayu kuda-kuda yang terpasang itu cuma kayu 4x6 yang biasa saja. Kalau kayu itu patah, bisa-bisa pak Uwir, tukang kepala itu jatuh dari ketinggian dua meter itu.
            “Kenapa turun, Pak Uwir?” Sahut  Pak Talib yang sedari tadi sibuk menggergaji, memahat, memaku kayu untuk membuat sambungan kayu.
            “Paku Panjang Empat habis. Lagi pula biarlah kuambil nafas sebentar, di atas panas sekali, matahari sudah tinggi,” sorak Pak Uwir dari jenjang kayu yang berderik derik ketika dipijaknya. “Ternyata sudah mulai menggigil lututku kalau kerja di tempat yang tinggi,” lanjut Pak Uwir mencandai Pak Talib.
            “Hahahaa..., usia itu Pak Uwir, besi saja lapuk dimakan waktu, apalagi kita.”
            “Ya juga, Sudah lama tidak”
            Pak Uwir sampai di bawah. Huufffff....,ia menghembuskan nafas kencang. Topi bundar loreng militer di kepalanya dibuka. Tampak kepala setengah botak di bagian belakang atas itu bersimbah peluh. Ia mengipas-kipaskan topi untuk memancing hembusan angin.
            “Tambaro! O, Tambaro! Kemarilah” Sahut pak Uwir memanggil lelaki muda, pesuruh tukang bangunan yang sedari tadi sibuk mengaduk semen. Dengan sepatu bot yang kedodoran dikakinya yang ceking, tergopoh-gopoh Tambaro mengahampiri arah suara panggilan itu.
            “Ada apa, Pak?”
            “Tambaro, paku panjang empat habis. Kau pergilah ke Anduring, temui Etek Samsidar di rumah gadangnya. Minta ke dia uang tigapuluh ribu, katakan untuk beli paku. Beli paku di toko bangunan Gonjong Limo Andalas, di situ murah”
            “Ya, Pak. Baik” Tambaro yang sudah sering ikut kerja sama Pak uwir selalu siap untuk mendengar aba-aba, perintah dari komandannya itu. Segera ia menanggalkan sepatu bot, menggantinya dengan terompah Jepang.
            “Kalau uang bersisa, beli saja rokok. Sudah kelat muncungku” Tambah Pak Uwir.
            “Oke, siap komandan!” Tambaro langsung mendorong sepeda Unto Pak Uwir yang tersandar di bawah batang kelapa. Tak jauh dari situ.
***
            Rumah itu baru setengah jadi. Sudah seminggu mengerjakannya, bentuknya sudah tampak. Rangka-rangka kayu besar sudah berdiri. Tidak terlalu besar. Rencananya rumah itu dibuat semi permanen. Tidak ada gambar rencana. Rencananya, dinding rumah hanya setengah ke bawah dibuat dari batako lobrik. Sedangkan keatasnya akan didinding dengan papan sibiran saja. Kemarin, katanya Etek Samsidar sudah memesan kayu sibiran di Gadut.Tapi papan sibiran belum juga datang.
            Lantai rumah itu yang rencananya dua kamar dengan ukuran 3x3 meter itu akan dicor kasar saja. Kata Etek Samsidar lagi, cukuplah dicor kasar saja dulu. Kalu ada kepeng lagi nanti bisa dilapisi dengan perlak plastik yang serupa marmer itu.
            Suara gergaji Pak Talib mendesau-desau berirama. Sesekali terdengar bunyi kelotak paku dihantam palu. Sedari mulai kerja pukul delapan tadi, Pak Talib sibuk mengukur, memotong, memahat dan memaku kayu sepanjang empat meter itu untuk disambung-sambung menjadi enam meter. Sesuai panjang rumah. Kayu itu akan digunakan untuk reng kuda-kuda bagian atas, penopang seng.
            Pak Uwir menuang kopi ke gelas. Dilihatnya jam tangan rolex imitasi yang menempel ditangannya. Jarum terkecil sudah menunjuk angka 12.
            “Sudah tiba pula waktunya sumatra tengah, Pak Talib.”
            “Ya. Tapi Etek Samsidar belum datang mengantar rantang. Biasanya jam segini sudah datang. Kemarin saja pukul sebelas sudah makan siang kita”
            “Kalau kuda-kuda dan reng terpasang hari ini, besok kita tinggal menaikkan seng saja lagi, bukan begitu, Pak Talib.” Pak Uwir sibuk meniup-niup kopi panas. Uap putih menyibak dari bibir gelas.
            “Iya Pak Uwir. Seng sudah datang. Dua kodi. Besok kita pasang seng. Pak Uwir di atas ya”
            “Sudah kubilang, Lututku sudah menggigil kalau memanjat tinggi-tinggi.”
            “Hahaha, cepat benar tua Pak Uwir ini. Jadilah, besok aku yang di atas memaku seng. Pak Uwir di bawah mematut lurus tidaknya pasangan seng.” Pak Talib  berdiri. Mengambil nafas. Menuang kopi separuh gelas, mendinginkan sebentar, menyalakan sebatang rokok dan menyeruput kopi.
            “Eh, Pak Talib, kalau rumah ini selesai tentu Etek Samsidar akan turun dari rumah gadang kaumnya di Anduring itu. Kabarnya, Roza, anak Etek Samsidar yang bekerja di Malaysia itu akan pulang kampung bersama suami dan anaknya. Konon, Roza tidak mau tinggal di rumah gadang kaum itu. Ia yang mengirim uang untuk membeli bahan bangunan rumah ini”
            “Kenapa begitu, Pak Uwir?”
            “Hahh..., tidak tahulah. Etek Samsidar sudah malas bercekcok dengan saudara sepupunya yang lain. Makanya ia beranikan diri membangun di tanah pusaka ini. Karena ini jatah pembagian Etek Samsidar, katanya.”
            “Kalau kaum berpusaka banyak itulah enaknya, Pak Uwir. Selalu ada jalan  bagi yang membutuhkan.”
            “Ya, begitulah Pak Talib. Kalau kita, manalah punya pusaka lagi. sawah, kolam dan ladang sudah habis dijual datuk-datuk, mamak-mamak kita dahulu.”
            “Ya, mamak hari ini hanyalah untuk bermamak panggilan saja. Hahaha... Eh itu Etek Samsidar datang.”
            Etek Samsidar, perempuan separuh tua itu menenteng dua rinjing rantang.
            “Maaf, Telat awak Wir, Lib. Tadi terlambat pulang dari pasar. Sebelum ke pasar awak singgah dulu di Rumah Sakit Umum. Membezuk Datuk Sampono Seso.”
            “Datuk Sampono Seso masuk rumah sakit?” Pak Uwir menatap  Etek Samsidar.
            “Iya. Tadi malam sempat stroke. Tidak bisa digerakkan tangannya. Mulutnya pencong. Tapi saat kulihat tadi sudah agak baik mamakku itu.”
            “Syukurlah. Mudahan cepat sembuh Datuk.”
            Etek Samsidar sibuk membuka bungkusan kain rantang. Nasi panas mengepulkan uap putih. Etek Samsidar menating ke tikar plastik seadanya. Rantang berikutnya, di bawah rantang nasi, kepala ikan karang digulai pangek seakan melotot matanya menggoda liur Pak Uwir. Pak Uwir menelan ludah, menahan selera. Dibawahnya lagi, sayur pucuk ubi menimbun merahnya Sambalado. Pak uwir berdecak, rupanya etek memanjakan selera tukangnya dengan makan besar hari ini. Belum lagi, dirantang terakhir ada potongan magga golek yang sudah di iris-iris sebagai pencuci mulut.
            Tambaro pun sudah balik. Di sandarkan sepeda ke batang kelapa. Ia letakkan paku di ember. Ia melihat kedua tukang sudah membasuh tangan untuk makan. Ia pun bersiap untuk bergabung.
            “Setengah bungkus dapat rokoknya cuma, Pak uwir.” Tambaro menyodorkan ke Pak Uwir.
              “Cukuplah untuk penutup makan besar ini.”
            Maka, tanpa basa-basi, tanpa disuruh-suruh lagi, ketiga pekerja bangunan itu sudah sibuk menyanduk, memindah isi rantang ke piring masing-masing. Kepala ikan karang terkoyak, sambalado mengubah warna nasi jadi merah, suap demi suap saling berpacu diantara meraka. Lahap. Peluh berpacu pula keluar akibat pedasnya sambalado.
            Sementara itu, Etek Samsidar berdiri tidak jauh dari situ. Ia mematut-matut rumah. Sekilas terbit senyuman puas di bibirnya. Mungkin ia sudah membayangkan rumah itu selesai dalam waktu seminggu ini, atau Etek samsidar sudah membayangkan ia akan tinggal dengan tenang bersama Roza, menantu dan cucunya di rumah itu. Seburuk apapun rumah itu, ia tentu akan senang bisa turun dari rumah gadang, lepas dari tekanan dan gunjingan saudara-saudara sekaumnya yang lain. Mata Etek Samsidar menatap bubungan kuda-kuda. Tapi ia tersentak karena cahaya matahari yang terik menyonsong matanya. Silau.
            Saat itu pulalah sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan areal itu. Mobil terseok-seok, tergesa menerobos tanah yang bergelombag, mesinnya menderu-deru kasar.
            Mobil itu tak bergerak lagi. Seorang wanita paruh baya, agak lebih muda dari Etek Samsidar turun dengan sangat gegas.
            “Heh! Mana Idar? Heh! Mana Idar? Mana dia?” Tanpa babibu, hardikan dengan suara yang cempreng itu menyeruak telinga Pak Uwir, Pak Talib dan Tambaro. Sementara Etek Samsidar yang disebut namanya segera melangkah mendekat perempuan itu.
            “Warni. Kau pulang?”
            “Hehh..., kalera kau! Seenaknya perut saja kau membangun di tanah ini! Kau kira ini tanah gono-gini bapakmu? Hehh! Tidak sepersen pun uang bapakmu di tanah ini! Ini tanah pusaka! Saya juga berhak atas tanah ini! Siapa yang mengizinkanmu mendirikan rumah di sini? Ini tanah pusaka kaum! Belum ada pembagian yang sah oleh Datuk Sampono Seso! Malahan uangku yang dipinjam Datuk tak dikembalikan sampai sekarang. Katanya tanah ini jaminannya!”
            “Warni, ada apa ini? Jauh-jauh kau dari Jawa hanya untuk memaki, becarut-carut di sini.”
            “Kalera, Kau! Tak tahu diuntung Kau! Anak haram!”
            “Jaga muncungmu Warni!”
            Pak Talib, Pak Uwir maupun Tambaro terhenyak kehilangan selera makan mendengar pertengkaran itu. Matahari mendiang kulit kepala. Suara kedua perempuan itu makin menggelegak. 
            “Kau memang anak haram! Mana ada kandungan enam bulan saja sudah lahir. Kaulah orangnya! Anak haram tidak berhak atas harta pusaka!”
            Samsidar meraih piring kaca dengan remah nasi bersisa di atasnya. Warni melihat gelagat Samsidar. Ia mengambil batu yang sekepal tangan yang terinjak kakinya. Samsidar melempar piring bak seorang atlet lempar cakram. Warni menolak batu bak seorang atlet tolak peluru.
            Brakkk!
            Prangg!
            Setelah itu hanya pekikan sopran dari dua warna suara yang berbeda berkejaran dengan azan zuhur yang mulai terdengar, membubung kusut ke langit yang tinggi. Dan dua tubuh menggelepar-gelepar bagaikan ikan terdampar di pasir tak berair.

Sarilamak, 1 Muharram 1431

dipublikasikan pertama kali di Harian Padang Ekspres

Kamis, 03 Februari 2011

Lampu Merah Menyala Di Senyum Ibu


cerpen
Ilham yusardi

Penundaan keberangkatan. Aku langsung hilang mood, begitu tahu delay keberangkatan untuk pesawat yang akan kutumpangi.  Dari pukul tiga siang ini menjadi pukul lima nanti. Tidak ada alasan yang jelas. Cuma terdengar siur berita dari orang-orang di sekitaran ruang tunggu, pengunduran karena ada kesalahan teknis. Alamak! Aku sudah capek-capek, buru-buru, pukul dua tadi sudah datang di bandara besar ini.
Meskipun demikian, pengunduran ini pun bukan masalah yang pelik buat aku. Toh, saat ini aku sudah di ruang tunggu bandara, di kantong ada selembar tiket. Aku hanya butuh sedikit kesabaran untuk hal yang lebih penting. Nanti, kalau sudah di atas udara aku bisa tidur pulas barang dua jam. Dan di Bandara Internasional Minangkabau, tentunya Wardi, sepupuku sudah sedia menunggu. Dan begitu tiba di rumah, tentu hal yang paling menyenangkan, mencium tangan ibu dan mengutarakan hasratku kepada ibu.
Setengah jam berlepasan, setengah bungkus rokok sudah jadi puntung. Orang-orang berwajah setengah menggerutu sileweran di sekitarku. Anak-anak kecil bermain tanpa hirau dengan kemusut kening ibu-bapaknya. Namun itu tidak pula menggaduh pikiranku. Alangkah lebih menariknya bermain dengan pikiran sendiri, mencoba menyusun kata-kata terbaik untuk mengungkapkan hasratku kepada ibu nanti. Kata-kata seperti apakah yang bisa melunakkan hati ibu?
Aku baru saja tersadar, sedari tadi duduk disini, ternyata ada seseorang yang sedang  mengarahkan isyarat ketertarikan denganku. Seorang ibu paruh baya, sepantasan ibuku, berada berhadap-hadapan, di kursi seberang dari tempatku duduk. Ia menatap dalam. Tajam. Hingga menusuk pikiranku dengan cepat. Tiada pula kusadari, entah telah berapa lama ibu itu menatapku terus-menerus. Mungkin sudah seperempat jam yang liwat. Ia menatap dengan penuh sungguh. Tiada terganggu dengan orang-orang yang berlintasan hilir-mudik di depannya. Beberapa kali matanya menumbuk mataku ini. Serr! Ada aliran yang aneh begeletaran di hatiku. Bertengkar dengan pikiran sendiri, ganjil-lucu rasanya.
Ibu itu tersenyum padaku. Senyumnya berwarna merah lada. Bibirnya yang tebal. Lebar. Lama ditahannya. Senyum itu, berisyarat agar aku berkenan membalsanya. Tapi, aku sendiri juga sanksi. Apa benar ibu itu mengaturkan senyum buatku? Atau ada orang lain yang sedang ia sapa? Tapi, kenapa pula aku geer sendiri? Aku tidak menanggapi senyum itu. Kucoba alihkan pandangan, berupaya lepas dari tatapannya. Aku coba alihkan pandangan pada seliweran orang di depanku, pada iklan-iklan maskapai yang terpampang di tiang-tiang koridor, bahkan mencoba buang jauh pandangan keluar, ke landasan pacu, melihat pesawat yang sedang lepas landas atau mendarat. Tapi ajaib, aku serasa dalam gelombang elektro magnetik yang sangat kuat memancarr dari tatapan dan senyum ibu itu. Ibu tidak beranjak dari tempat duduknya.
Aku terseret lebih jauh kedalam gelombang itu. Hingga muncul pertanyaan sendiri. Begini, kalau memang ibu itu sedang memperhatikan aku, berarti ada sesuatu hal pada diriku yang menautkan dengan pikirannya. Tapi buat apa pula aku dipikirkannya? Toh, kami tidak saling kenal-mengenal sama sekali. Aku yakin ia pun tidak mengenalku. Mungkin saja ibu itu lagi salah orang. Bisa jadi wajahku mirip dengan seseorang yang kenal dekat dengannya? Ahh, entahlah...
***
Hhhah! Pukul lima. Akhirnya berangkat juga. Aku  telusuri kabin. Suasana jadi ribut begitu diumumkan agar penumpang tujuan Padang dipersilakan naik pesawat. orang-orang berebut tidak sabar. Begitulah sejak ongkos naik kapal terbang menjadi murah. Sekarang orang sudah naik pesawat untuk berpergian jauh. Dahulu, orang-orang kampungku berangkat ke Jakarta dengan Bus Malam. Kelas eksekutif, itu sudah luar biasa hebat. Apalagi naik kapal terbang. Jumawa rasanya bisa naik kapal terbang. Tapi sekarang naik kapal terbang sudah jadi biasa saja. Apalagi naik kelas ringan, kelas ekonomi dari maskapai yang jor-joran dengan harga. Harga tiketnya mampu dibayar oleh pedagang kaki lima kelas gerobak sekalipun. Rasa naik pesawat dari Jakarta ke Padang tidak lebih dari serasa naik angkot di kampungku saja. Ribut.
 Aku berhenti di tengah kabin yang sudah sibuk dengan ocehan orang-orang yang saling kenal, saling sapa. Aku perhatikan, tidak ada kenalan kali ini. Di depanku nomor kursi 33. Kuperiksa tiket lagi. Cocok. Lega rasanya menghenyakkan badan pada kursi yang lumayan tebal busa joknya. Lepas jugalah penat menunggu dua jam.
Sebetulnya aku sangat ingin duduk kursi sebelahnya. Ditepi. Hingga tersandar pada dinding dan bisa melihat negeri awan dari jendela. Sudah menjadi kesenangan bagiku kalau berjalan jauh naik bus atau kereta api. Aku jadi mengenang, dahulu aku selalu minta duduk di sisi tepi pada ibu. Hobiku melihat tempat-tempat yang dilewati dari jendela. Sayang, kali ini aku tidak mendapatkannya.
“Kamu boleh duduk disitu. Saya yang di sini” Telingaku menangkap ujuran itu dari samping. Sontak mataku coba mendapatkan asal suara. Seseorang telah berdiri di sampingku. Aliran darah dalam nadiku seakan berbalik arah, seakan dipompa dari ubun-ubun dengan tekanan besar. Apakah ibu yang di ruang tunggu tadi dengan sengaja menguntitku sampai ke sini. Kali ini senyum ringkas penuh enigma itu tepat di hidungku, tak lebih dari sejangkau tangan. Anehnya ibu itu bercakap seakan sudah begitu karibnya ia padaku. Kembali ganjil pikiranku
“Ibu, ibu di kursi tiga empat” Ah, kalimatku tersendat. Aku sendiri tidak paham. Barusan aku sedang bertanya atau menjelaskan? Ibu itu melihat tiketnya. Ia memegang tiket bernomor 34.
“Kau saja yang disitu. Bandel!” Aku mendapat ujung kata yang makin mengganjilkan: bandel. Tanpa pikir dua kali aku pindah ke kursi tepi. Begitu duduk di kursi 34, aku tak menoleh lagi ke ibu itu. Ia pun duduk dikursi 33. Mengamit tas kecil di pangkuannya. Untuk mengucapkan terimakasih pun aku tidak sempat. Tidak sempat atau tidak sanggup bersibuah saja di kepala ini. Aku percaya, kalau berusaha tidak terikat dengan tatapannya mungkin jalan terbaik membuang keganjilan ini.  
Tapi usaha tak acuhku pada ibu ini malah menyerang balik. Pikiranku jadi terkunci pada keanehan yang sedari tadi dan masih berlangsung. Seandainya tadi aku menyiapkan obat tidur, mungkin akan kutelan sepuluh biji sekaligus. Biar selesai pikiran-pikiran yang tidak karauan lagi ini.
 Setelah beberapa menit di udara, aku tidur ayam saja. Habis, ibu ini terus muncul dalam benakku. Biar tidak tertanggu dan menggangunya, aku tidur dengan memiringkan tubuh pada sisi yang berbeda dari tempatnya duduk. Sungguh, tidak benar-benar bisa tidur. Kepala seakan membalon dan terus membesar, memuat wajah tersenyum ibu ini. Senyum itu. Lebar. Tapi aku pikir ia seorang ibu yang baik pada anak-anaknya.
“Durhaka! Mau kawin tak bilang”
Dengan jelas kudengar ucapan itu. Ah, barang kali ia sedang bicara dengan seseorang di samping kanannya. Tapi disamping kanannya bukankah gang kecil yang memisahkan kursi deratan kiri dengan deratan kanan? Berarti ucapan itu tertuju padaku. Lho! Kok dia tahu apa-apa yang ada dalam benakku dalam perjalanan pulang ini? Dengan gugu kubuka mata. Ya, Tuhan! Dia tersenyum ke arahku. Bibir warna merah lada. Lebar. Persis seperti pertama kali di  koridor bandara tadi. Menghujamku dengan tatapan dalam. Aku seperti terlipat-lipat, tubuhku menciut seribu kali, terbenam kedalam kursi. Tapi kepalaku terus membesar, memuat kenyataan dan pertanyaan yang bercampur aduk.  
“Bu...” Sapaku mengurai kekeluan lidah. Aku seperti seorang anak kecil yang ketahuan berlaku tidak sopan. Kucoba mencairkan kekakuanku dengan membalas senyuman ibu itu.
“Sudah saya katakan. Carilah perempuan urang awak[1]. Dasar Malin Kundang”
Ibu itu mengoceh. Tapi entah pada siapa? Tidak ada orang di sampingnya selain aku. Apakah benar ucapan itu tertuju pada aku? Tapi, kok bisa?
“Mau terbang jauh? Alaaah, sejauh bangau terbang balik ke kubangan jua!”
Ocehan ibu itu semakin banyak dan berani. Aku tidak berani menanggapi, atau sekedar merespon saja. Kalau ibu ini bicara tanpa tujuan yang jelas, berarti ada keanehan di situ. Apakah ibu ini mengidap sejenis kelainan jiwa. Aku juga punya teman semasa kuliah dulu yang punya kebiasan selftalk, bicara sendiri tanpa ada lawan bicara. Semacam stress ringan. Steng-gil—maksudnya setengah gila, istilah kami menyebutnya. Sebab menurut ilmu jiwa moderen, orang-orang seperti ini bukan gila yang parah. Ia masih bisa berpikir normal. Tapi bicara sendiri jadi kebiasan yang aneh bagi yang melihatnya. Orang kampungku menyebut kelainan lakuan semacam ini snewen. Orang bisa menceracau kapan saja, di mana saja.
“Percuma punya anak. Anak peluru semua. Selalu sok ingin lepas dari orang tua. Padahal tidak. Belum apa-apa sudah perempuan yang dipintanya. Durhaka!” Ucapan ibu ini semakin mencikaraui kepalaku. Aku terdesak dengan ujuran-ujaran yang tidak jelas pada siapa yang sedang dimaksudnya. Tapi berkali-kali kena tembak tepat di hulu hatiku. Berkali-kali agar tidak tertanggapi, sesudah ia bicara aku terpaksa menarik nafas dalam.  Aku ambil botol air mineral dari saku jaket. Meminum seteguk, menyiram hulu hatiu yang serasa didiang bara. Tapi aku yakin, bahwa ceracauan ibu ini bukanlah untukku. Untung saja itu bukan ibuku. Sebagai seorang anak dari seorang perempuan yang seangkatan dengan ibu, aku coba menghormatinya. Tapi ceracuan semakin banyak dengan kalimat yang berulang-ulang diucapkannya. Kalau jendela pesawat ini bisa dibuka layaknya jendela bus kota, rasanya aku mau terjun saja. Lama-lama kok aku jadi tersudut sendiri mendengar ucapan ibu ini? Huhh..!
“Kalau dengan perempuan luar, bakal tidak punya Rumah Gadang[2] anak-anakmu, tidak berpandam kuburan[3] yang jelas. Tidak jelas tali perut[4] anak-anakmu. Terserak kau nanti kalau sudah tua. Malin Kundang!”
“Astaga.” Aku bangkit dari kursi, melangkah ke toilet yang ada di bagian belakang kabin pesawat. Aku coba memangkas adrenalin yang menegang oleh tohokkan kata-kata yang berhamburan dari mulut perempuan ini.
Di toilet, bukannya buang air kecil. Aku hanya mengusap muka dengan sapu tangan. Aku merasa lebih nyaman di sini.
***
“Assalamualaikum...!” Aku buka pagar rumah begitu turun dari motor Wardi. Ibuku sudah berdiri di beranda. Serr! Denyut itu lagi-lagi menyergap. Ibu tersenyum, dengan gincu yang berwarna merah lada. Tebal juga lebar. Serasa masih senyum perempuan di pesawat tadi. kenapa ada irama yang sama. Tapi kekuatan lain yang menenangkanku. Senyum ibu adalah senyum kerinduan yang lepas begitu melihatku. Anak kandungnya, semata wayang.
”Kusut raut mukamu. Letih sekali sepertinya kau, Wimo?”
“Ya, Bu. Kelamaan menunggu. Berangkatnya tertunda” Apakah terlalu mudah ibu membaca air mukaku?
“Ya, sudahlah.  Sekarang mandilah dulu. Biar segar, sudah ibu siapkan air hangat kuku. Habis itu kita makan bersama ya”
“Ibu belum makan?”
“Belum. Nunggu kamu. Ibu sudah buatkan kau gulai ikan Pangek Padeh. Tadi kusuruh Wardi menangkap ikan di kolam”
Aku terkesima. Tak ada yang berubah dari ibu soal memanjakanku. Ibulah yang selalu menegakkan kepalaku kalau lagi lelah melangkahi liku hidup. Ibu pula yang keras menyuruhku sekolah tinggi-tingi. Meski hanya uang dari pensiuanan almarhum ayahku, meski jauh dari halaman rumah, jauh dari pelupuk mata ibu.
Tapi, yang menjadi tanya bagiku: Adakah ibu mau mendengar dan menerima hajatanku? Apakah memberi restu padaku untuk menikah dengan Cyntia? Teman sekantorku, perempuan  yang bukan urang awak, perempuan yang sudah kupacari setahun belakangan ini? Entahlah. Aku selalu tidak berhasil menebak jalan pikiran ibu.
***
‘Durhaka! Mau kawin tak bilang.’
‘Bukan begitu, Bu. Aku...,aku tidak sempat.’
‘Sudah kukatakan. Carilah perempuan urang awak. Dasar Malin Kundang’
‘Apa bedanya perempuan urang awak atau tidaknya. Perempuan yang kupilih juga baik. Perempuan yang seseuai dengan kriteria yang aku idamkan. Cantik, cerdas, penuh kasih, sabar. Aku sudah menetapkan pilihan. Aku berharap Iibu tidak menolak.’
‘Mau terbang jauh? Alah, sejauh bangau terbang balik ke kubangan jua.’
‘Bukan begitu, Bu. Aku tidak akan jauh-jauh dari Ibu. Lagi pula tak ada yang disebut jauh hari ini. Jarak sudah bisa dipintas. Waktu bukanlah halangan. Kalau aku jauh dari mata ibu, hati ini akan dekat selalu.’
‘Percuma punya anak. Anak peluru. Selalu sok ingin lepas dari orang tua. Padahal tidak. Belum apa-apa sudah perempuan yang dipintanya. Durhaka!’
‘Yakinlah, Bu. Tiada perempuan lain yang bisa menggantikan posisi Ibu dalam diriku. Ibu. Yang mengalirkan darah dagingku. Dia menempati posisi lain dalam hidupku. Sebagai isteri.’
‘Kalau dengan perempuan luar, bakal tidak berumah gadang anak-anakmu, tidak berpandam kuburan yang jelas. Tidak jelas tali paruik anak-anakmu. Terserak nanti kalau sudah tua. Malin Kundang!’
‘Tatanan itu, tatanan itu lagi. Tidak ada dalam syarak’
‘Tidak. Tidak bisa! Kau tak menghormati adat!’
...

“Ibuuuuuuuu!”
“Erwin. Kamu bermimpi? Mimpi burukkah? Mengucaplah!”
Ibu masuk seraya menyalakan lampu kamar. Mataku silau perih tertimpa cahaya neon.  Ibu menyodorkan segelas air putih. Aku lihat ibu tersenyum. Aihh.., senyum perempuan di pesawat itu. Aku semakin gugup dengan senyum ibu. Sekujur tubuhku berpeluh dingin, seakan ada yang meletakkan sebongkah es batu di kudukku.
***
Kepalaku pagi ini seakan dirambati tumbuhan semak. Berpilin-pilin, dengan cepat akarnya menjalar menghisap sum-sum tulang aku. Aih, mengapa pula wajah ibuku, wajah perempuan di pesawat itu jadi baur. Kenapa pula aku yang bersitegang dalam mimpi semalam? semuanya bersibuah, bertumpang-tindih dalam mimpi. Kan cuma mimpi. Tapi, kalau cuma mimpi, kenapa pula pikiran ini justru membuatku tidak sanggup untuk bersitatap dengan ibu? Rasa kecut surut ini terus beranak pinak.
“Wimo, mandilah dulu. Bangun pagi tidak baik bermenung,” ibu keluar dari dapur dengan secangkir teh hangat, diulurkan ke hadapanku aku. Kemudian melanjutkan kalimatnya yang tergantung, “Ibu mau ke Koto Tinggi sebentar. Ke rumah mamakmu. Mudah-mudahan ada Leni, anak mamakmu itu. Kalau ada, nanti kuajak Leni kemari, ya? Dia sudah tamat pula sekolah, sudah jadi gadis rancak[5] sekarang. Sudah elok pula jadi induk beras[6] buatmu.
Ibu tersenyum. Senyum yang kian ganjil. Astaga! Senyum ibu berwarna merah lada. Lebar. Aku seakan melihat ada lampu merah yang sedang menyala.
dipublikasikan pertama kali di Harian Haluan Minggu, 23 Januari 2011

[1] Panggilan untuk sesama orang Minang.
[2] Rumah adat, tempat tinggal keluarga sekaum di Minang.
[3] Pemakama keluarga sekaum
[4] Garis keturunan.
[5] Cantik (minang)
[6] Istri; ibu rumah tangga.

Manggok

Cerita Pendek
Ilham Yusardi
Manggok

      Sudah lima hari Pudin pulang dan tidur di Rumah Gadangnya. “Kenapa pula Pudin tidak pulang ke rumah Maryam, bininya itu? Ada apa pula agaknya?” Pikir Bainar. Memang, ia belum bertanya dan belum dapat kejelasan langsung dari adik bungsu semata wayang itu. Alang hari, Pudin hanya turun-naik, hilir-mudik, antara tangga Rumah Gadang ke warung Uwo Ijah di simpang ujung jalan yang tidak jauh dari rumah. Jika tidak ada para bujang yang bermain domino atau kartu koa disitu, ia kembali ke rumah. 

       Kalau di Rumah Gadang, paling Pudin cuma duduk di beranda depan, di kursi rotan reot peninggalan ayah. Di kursi itu, ia mengupil-ngupil kuku kaki, atau mencabut-cabut janggut dengan jepitan dua uang logam. Dan tak jarang Bainar dapatkan Pudin tertidur kere di kursi. Kalau Magrib sudah datang, Pudin tidak berkemas untuk berangkat ke rumah bininya di Padang Tui. Malahan ia bergegas, bertelanjang dada, handuk di pundak, bawa ember kecil untuk mandi sore ke sungai Batang Maek yang dua puluh meter di belakang rumah. Shalat Magrib di surau kaum—Bainar bersyukur betul lihat Pudin sudah rajin sembahyang sekarang. Tapi ia sangsi juga: Apakah Pudin rajin shalat hanya pelarian, karena bingung, malu, tidak tahu apa mesti dikerjakan lagi saat semua orang sibuk beribadah Magrib? Terserahlah, Bainar menghapus curiganya. Selepas Magrib, ia duduk di lepau Uwo Ijah lagi, dan tengah malam Pudin pulang, masuk Rumah Gadang dari pintu dapur yang sudah sengaja tidak dikunci, lalu tidur di kamar belakang dekat dapur.

Seperti sore kemarin, Pudin baru terbangun bermalas-malasan di kursi beranda ketika Uda Zainal, suami Bainar, muncul di tangga rumah, pulang bekerja. Pudin terkejut dan terbangun sebab suara Uda Zainal mengucapkan salam. Lebih dari itu tak ada mereka bicara. Sebab, Uda Zainal tak pula banyak bicara dengan Pudin. Paling tiga patah kata, basa basi, dan Uda Zainal akan langsung masuk kamar. Karena, mereka sama-sama tahu, sama-sama segan. Tentu keduanya sadar diri, bahwa tak baik antara mamak-rumah dengan semenda bicara banyak, apalagi bicara yang tak penting atau tak patut.
Bainar malas menanyakan langsung pada Pudin kenapa ia tak pulang ke Maryam. Ia tahu betul tabiat adiknya yang keras, yang tidak suka ditanya-tanya, tidak suka dicampuri urusannya. Manalagi Bainar hapal betul, darah muda Pudin yang masih berumur dua puluh tujuh tahun itu, masih mudah menggelegak kalau tidak suka dengan sesuatu. Jika Pudin marah, cintang-perenang isi rumah. Mungkin kursi itu patah-patah, mungkin jam dinding, yang melayang dari tempatnya, atau piring nasi yang sedang ditangannya (kalau ia sedang makan) berterbangan ke halaman. Jangankan untuk bertanya, melihat tajam sorot matanya yang lubuk dalam itu, mungkin Bainar sudah gemetar duluan.
* * *
Lima hari berturut-turut, Bainar mulai tidak tenang pikiran melihat adiknya. Pastilah ada perkara yang sedang disembunyikannya, kira Bainar. Meskipun dulu tabiat kasar dan angkuh itu sering nyasar padanya, Bainar tetap perhatian pada Pudin. Berkarat rotan pun, berpatah-tulang pun, ia tetap adik kandung, sedarah-sedaging, seibu-sebapak baginya, yang tiada dua saudara lagi, pikir Bainar. 

Ia risau melihat Pudin tiap bangun pagi, duduk di beranda. Murung. Seakan tidak di badan pikirannya. Kalau Bainar menyiapkan minum pagi buat suaminya, mau tak mau ia buatkan juga segelas kopi buat Pudin. Bainar juga hapal adukan kopi yang disukai Pudin: kental dengan sedikit gula. Agak pahit. Kalau kopi itu tidak berkenan di lidahnya, ya, ia akan membiarkan saja, tidak diminumnya lagi.

Hari ini Bainar mulai menerka-nerka. Apa benar yang dikatakan Uda Zainal sebelum mereka tidur tadi malam, yang justru setelah mendengarnya, membuat mata Bainar tidak dapat dipejamkan lagi. Menurut Uda Zainal, Pudin mungkin sedang manggok dari istrinya, Maryam. “Barangkali Pudin dan Maryam sedang bertengkar, berselisih paham, tak sepikiran, tidak seiya-sekata,” uda Zainal menjelaskan.

“Biasanya begitu tanda-tanda seorang laki-laki manggok terhadap suaminya. Ia tidak akan pulang ke rumah si istri. Si laki bakal pulang ke kampungnya. Dahulu, orang yang sedang manggok tidur di surau, makan di lepau, layaknya laki-laki bujang. Tapi sekarang orang sudah tidak ada lagi tidur di surau. Itulah sebabnya Pudin pulang ke sini, di larut malam, agar tidak tampak oleh orang kampung,” begitu Uda Zainal menerangkan. Bainar terheran, dan tertawa dalam hati saja mendapatkan keterangan itu. Ia tidak pernah tahu sekalipun tentang itu. Lagi pula, sepuluh tahun pernikahan dengan Uda Zainal, meskipun belum dikaruniai keturunan, tidak sekalipun suaminya itu melakukan manggok. 

Kata uda Zainal lagi, “Kalau seorang laki-laki manggok dari suaminya, maka si istrilah yang datang membujuk suaminya kembali. Si istri harus datang ke Rumah Gadang suaminya. Satu hal penting, sebagai syarat wajib, istrinya harus datang dengan membawa ayam panggang! Kalau tidak, bujukan itu tidak akan diindahkan si laki-laki. Ia tidak akan mau kembali. Ia merasa tidak dihargai. Malu besar baginya kalau diketahui kawan-kawannya bahwa ia tidak dijemput dengan Ayam Panggang”

“Ayam Panggang?”
* * *
Mendengar penjelasan Uda Zainal semalam, paginya, ingin pula Bainar mencari tahu kebenarannya. Apa betul Pudin sedang Manggok. Kalaulah memang itu sedang terjadi, apa pangkal balanya? Tapi, dari siapa pula ia bisa tahu. Tentu tak ada orang yang tahu selain mereka berdua suami-istri, Pudin dan Maryam. Apakah mungkin anak mereka, Sadiya, juga tahu? Tapi, Bainar berpikir lagi, sejauh manalah gadis kecil kelas satu Sekolah Dasar itu tahu tentang panas-dingin keintiman orang tuanya. 

Bainar tidak patah arah arang. Ia perlu mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara Pudin dengan Maryam. Bainar khawatir kalau memang telah terjadi pertengkaran besar. Lebih mencemaskan Bainar lagi, apakah Pudin main tangan? Atau lebih parah lagi, apakah Pudin telah berkata-kata ‘cerai’ terhadap Maryam? Kalau kata itu telah terucapkan oleh Pudin, tentu sudah jatuh pula talak satu terhadap istrinya. Kalau talak satu sudah jatuh tentu tambah rumit. Gerbang kehancuran rumah tangga. Kalau rumah tangga mereka hancur betapa kasihan dengan Sadiya, putri mereka satu-satunya, yang masih terlalu kecil menerima nasib malang perpisahan orang tua. Bainar makin gelisah oleh pikirannya sendiri yang cepat menjalar-jalarkan risau dihatinya.
* * *

Hari ini hari Kamis. Hari pekan. Di kampung itu hanya pada hari Kamis orang-orang turun untuk berdagang, berjual-beli. Bila hari pekan datang, pagi-pagi orang sudah berdatangan ke pasar kampung untuk menggelar dagangan. Pada umumnya orang kampung itu peternak dan petani. Jadi, segala macam hasil tani seperti Ubi, Kacang, Nenas, Manggis, Durian, Kelapa, segala macam sayur muda bersimbahan di los-los pasar. Kerbau, sapi, kambing, ayam, itik, angsa, puyuh dan segala macam hasil ternak tentu akan ikut meramaikan pekan. Segera Bainar melangkah turun dari tangga Rumah gadang.
Maksud Bainar ke Pekan tak lain hanya untuk berusaha bertemu Maryam. Bainar yakin, kalau Maryam pasti juga akan ke pekan. Lagi pula jarak rumah Maryam ke pekan cukup dekat. Kemudian, setahu Bainar, Maryam selalu muncul di pekan meski ia tak sedang mau menjual apapun. Paling tidak ia datang ke pekan untuk membantu Marlena, kakaknya, yang berjualan Lontong-Pical di pekan. 

Sepanjang jalan, dalam langkah gontai, Bainar tak berkesudahan memikirkan perihal Pudin dengan Maryam. Tak lupa ia berdoa bertemu Maryam selekasnya. Dan berharap kusut rumah tangga ini dapat diperbaiki.
Perkiraan Bainar tak meleset. Begitu Ia sampai di kelok, pangkal los pasar, di depan lepau Lontong-Pical Marlena yang sedang ramai, Bainar menampak Maryam sedang sibuk pula membereskan piring-piring kotor. Bainar masuk lepau, namun karena ramainya, Maryam tak sempat melihat. Bainar sementara duduk saja menunggu redanya kesibukan Maryam.

“Mar,” ia mencolek dan menarik tangan Maryam. Maryam terkesiap
.
“Eh, Uni . Ondeeh, maaf Uni, tak sangka Uni kiranya. Duduklah Uni sebentar, Mar ambilkan Pical.” Tak lepas keterkejutannya, ia salinkan air putih dari teko segelas, di sodorkannya ke hadapan Bainar.

“Tak usahlah, Mar. Tadi Aku sudah makan pagi di rumah.” Menjawab basa-basi itu. Bainar, menangkap sesuatu yang lain di air muka Maryam. Maryam tak dapat menyurukkan gugupnya saat tatapan Bainar mencoba menerobos masuk ke hulu matanya. Pada detik berikutnya, Maryam mematahkan tatapan itu. Keduanya saling paham saja apa yang hendak mereka perbincangkan.

“Kita ke belakang saja, Uni. Tak elok didengar orang banyak,” ditutup ajakan itu dengan senyum. Senyum yang galau. Bainar mengekor langkah Maryam, melewati lorong kecil antara sela meja makan. Ritmis suara sendok menyentuh piring baur dengan suara ingsutan terompah mereka. Di dapur, Marlena sibuk mengaduk kuah kacang, didihnya meletup-letup, asap uap panas tungku meruapkan harum kuah kacang. Marlena tersenyum, heran bercampur senang melihat kehadiran Bainar.

“Eee, Nar. Sudah dari tadi Kau? Marlena yang agak pekak, seakan setengah bersorak menyapa.

“Ndak juga, baru. Teruslah memasak. Ndak usah sibuk-sibuk. Awak mau bicara dengan Maryam sebentar.”

Marlena mengangguk-angguk, berkepahaman dengan perihal yang akan Bainar dan Maryam rundingkan.
Maryam menarik dua bangku kecil dari kolong meja yang di atasnya penuh dengan bahan dan bumbu masak itu. Satu ia sodorkan ke Bainar, satunya ia duduki. Mereka mengambil tempat duduk agak sedikit berjarak dari tungku kayu api, agar tidak kepanasan, dan tidak menggangu Marlena memasak.

“Jadi..., bagimana cerita kau dan Pudin sebenarnya, Mar?” Meski sedikit segan dan was-was, lepas jua kalimat tanya dari muncung Bainar. Ia lihat Maryam langsung berubah air mukanya, membuang muka sejenak. Lalu, entah sebab apa pula, ada retak kaca di mata Maryam.

“Mar tidak tahu siapa yang salah antara kami Uni,” retak kaca di mata Maryam pecah rapuh, mencair dan meleleh mengalir di kulit pipinya, ia tahan sebak hatinya. “Seminggu yang lalu Mar terima uang kongsi tani, lima ratus ribu. Kata Uda Pudin, berikanlah padanya uang itu dulu, buat uang muka kredit motor. Namun Mar gunakan uang itu untuk bayar sumbangan sukarela Sadiya yang masuk SD, dua ratus ribu. Seratus ribu Mar belikan baju dan bukunya, seratus lima puluh bayar utang di kedai Upik Sangek. Sisa lima puluh ribu, Mar belikan lauk-pauk. Habis Uni. Uda Pudin heboh, ia mau uang itu sebagai uang muka kredit motor. Uda Pudin mau ikut ngojek saja lagi. Ia sudah malas kerja mengampo daun Gambir. Begitu katanya.” Berpulun sesengguk sebak penjelasan itu tumpah dari bibir Maryam. Bainar terhening mencerna pangkal bala itu. Kini jelas sudah awal manggoknya Pudin. Bainar menarik nafas, mendaur-ulang pikiran.

“Sudah ada Pudin menjatuhkan talak?” Tanya Bainar dengan nada rendah.

Maryam menggeleng. Agak lega pikiran Bainar menerimanya.

“Kau mau menjemputnya?”

Maryam terdiam. Kemudian ada anggukkan.

“Tapi..., Mar belum Punya uang..”

“Untuk membuat panggang ayam?” Potong Bainar. Dikeruk uang dari balik pinggangnya. Dua lembar uang Soekarno-Hatta diangsurkan kepada Maryam.

“Ambillah, buat panggang ayam itu. Besok siang kutunggu kau di rumah. Bawa anakmu.”
* * *
Sudah hari ke enam. Pudin tersandar di kursi lepau Uwo Ijah. Matanya terus mengintip dari sela-sela jeruji bambu dinding lepau, ke arah Rumah Gadangnya.

“Enam hari. Adakah kemungkinan makan panggang ayam kita, Din?” Munap, kawan sebaya Pudin, dalam sibuknya menyusun kartu ceki masih sempat membaca gelagat Pudin. Ia, agaknya tahu Pudin sedang manggok.

“Kalau belum juga, kasih talak satu, Din” Yuang Alua ikut menyela. Telinga Pudin merah mendengar ucapan itu. Ia berdiam menahan olok-olokan.

“Kalau tak datang panggang ayam hari ini, jelaslah, tak cinta lagi Maryam pada kau.” Wan Teleng pun tak ketinggalan memperolok. Urat darah Pudin seakan menjelma sumbu bom yang hendak meledak. Namun ia tidak sedang menghiraukan olok-olok kawan-kawannya itu. Dari kisi-kisi bambu itu, konsentrasi matanya menatap jauh keluar, ke arah halaman Rumah Gadangnya. Sesosok bayangan anak menghentikan nyala api di sumbu amarahnya. Dalam bola mata Pudin, seorang anak kecil berlarian dengan girang, terus terlihat jelas, mendekat ke lepau. Sadiya anaknya. Pudin melepaskan nafas membuang sisa berangnya.

Sadiya, anak Pudin berdiri di pintu lepau. Matanya menyisir mencari Pudin.

“Ayah!” Suaranya menggebrak perhatian seisi lepau. Semua mata tertuju pada gadis lucu itu.

“Ayah, ayo pulang. Ibu di Rumah Gadang.” Putri lincah itu berlarian ke pangkuan Pudin. Jantung Pudin luluh mendengar ucapan Sadiya.

“Sadiya, coba jawab pertanyaan Uwan, jujur ya, nanti Uwan kasih kue,” Munap berdiri mengambil kue Lapek di meja, menyodorkan ke pelupuk mata bocah itu, “Apa ada ibumu membawa ayam panggang ke Rumah Gadang?”

Sadiya tidak bersuara. Tatapan Pudin nanar, masuk ke dalam mata gadis mungil itu. Entah sebab apa, ia pun terseret rusuh dengan gedebar di jantung, menunggu angguk atau geleng yang muncul dari kepala bocah itu.



Sarilamak, 2009

Dipublikasi pertama kali di Harian Padang Ekspres.