Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

BREAKFAST DI WC

Makan apalagi kau. Makanlah sekeranjang khuldi. Laparmu berhenti di simpang zaman. Kaukah gelandangan sejarah. Pahlawan. Tanah airmu penuh luka. Penuh kisah cinta yang mengharukan. Presidenmu sering menangis ya. Suka  nonton drama. Tetanggamu nonton gambar porno bajakan. Perempuan cantik. Makanlah lagi. Rebus saja ubi kayu. Nanti busung lapar. Kepala membesar. Tak besar kepala  negaramu. 
            “Negeri kita kaya, Nak” Ibumu tidak bohongkan.
Kau cantik. Melayu ya. Kulit warna khatulistiwa. Aroma pala. Matamu bening matahari pagi. Boleh jatuh cinta. I love you. Je t’aime . Yes. Ya. Iya kamu. Siapa kupanggil. Sitty. Nama zaman kolonial. Sophie saja. Lebih mudah. Patah lidahku. Cerita kakekku nama tanah ini dahulu Hindia Belanda. Insulinde juga boleh. Masakannya enak. Makanlah. Jangan itu. Itu bom. Nanti meledak kota di mulutmu. Lidah bisa ribut. Koran habis halaman. Halaman rumahmu luas. Buat sawah saja. Biar kubajak malammu. Maaf.
            “Menjalin persatuan dan kesatuan!” siaran tvmu memerintah.
Kau patriotik. Suka megepal tangan. Merdeka! merdeka! Katamu di cerobong. Sering muncul warna merah di jalan. Anyir. Ikan busuk. Mulutmu lahirkan demontrans. Rakyat kecil buat komunitas. Lsm orang tertindas. Hak!. Hahaha hak! Ham mmm! Buat partai yuk. Kita-kita saja. Partai apa bagusnya. Komunis jangan. Hiii! Disini ditemukan comunistophobia syndrome. Bisa hilang selera makan. Makanlah. Makan kawanmu. Mulutmu penuh deterjen. Berbusa. O cuci mulut. Bersih-bersih ya.
            “Jangan buang kata di sini. Kecuali anjing!” Siapa yang marah dalam plang itu.
Kamu mirip politikus orba. Lihat hidungmu itu. Sama merah. Seperti ada cabe. Warna bendera. Makanlah cepat. Ada yang datang. Keretap sepatu lars. Sembunyilah. Ke dalam nisan saja. Buat nama ya…
            “Dor!dor!dor!” Kok makan mesiu.     
Maaf lagi. Aku pergi.
            “tuhan mengundangku makan malam. Aku lapar. Tolong  pesan iklan dukacita untuk esok”

Makanlah
                                                                                                   Rumah Teduh, 1426.

Rantau

maka, aku berlayar kepulau-pulau lengang, selat-selat yang menghulu haluan kapal
amboi, di manatah wajahmu dara. aku hanya mengingat jejak tarianmu di ujung semenanjung. 
kini di situ pulalah kaki terbenam, menjadi seorang kuli pelabuhan.
orang-orang bongkar turunkan impian dari selatan, 
mengapalkan goni lada, kopi dan secebis hikayat-hikayat. 
tanah ini, berabad-abad dipenuhi sejarah kebabilan.
seribu punggawa telah memotret dirinya di mega yang pasi. 
aku melukis sketsa para sultan, mengulum rindu para sayid pada cinta nan abadi,
anbiya-anbiya yang mengunus tinggi nama tuhan
 : tapi tak jua kudapati sedikit jejak rambutmu yang merbak pala di pesisir ini.


pada malam-malam yang diam, orang-orang tidur dalam hikayat ksatria
: mereka telah menjelma Hang Tuah, Hang Jebat, beradu keris acungkan kebenaran,
saat itu pulalah kubayangkan kau terduduk haru di satu sudut polis,
mengemis sejumput kasih lewat pasi dinding dingin, dengan wajah diranum garis.
sedang pun, di pertigaan simpang lain, orang-orang lengkingkan stanza
dengan muncung aroma anggur tua.
”tanah ini, tanah ini harum humusnya mengirim rindu pada negeri seberang. 
teruslah...,teruslah tulis hikayat kalian dengan ujung pedang”

tapi kaki merindu ayun, hendak langkah jua menemu tanah yang lain.
maka, kususuri sungai, hingga kehulu. kucari para lanun di tanah perca,
beradu niaga, bertaruh peruntungan. Aih..., apatah ini yang disebut nasib?
berkali doaku patah,
diujung
sujud.

1428-1430

--

Puisi ini masuk 3 puisi terbaik Lomba Cipta Puisi Situseni.com-Indosat 2010

EPILOG IV

(tentang; rentang waktu)

semasih berpayung cakrawala; Nur illahi bergerai membersit pada segala gelap
aku tak meragu bebayang, meski semu samar, sesamar impiku.
walau telat catat geliat, walau pulang-hilang ke dalam liang.
bukankah bebayang tumbuh sebab zahir yang hadir?
sejauh rentang langkah pelarian terbilang
sehabis tapal kecemasan, di kepal kalbu, igau tentangmu kusemayamkan
di situ,  aku dan Tuhan tak saling mendusta

aku  tak akan bisa sembunyi, cintaku
meski berpunah zarah, walau akan bertaut tanah.


1428

Pledoi

(karena ayatku tercecer)
buat Faiz m.

aku tak hendak bertindih-tikam
serupa Habil dan Kabil
tentang sepotong ayatku yang terseret lalu larut dalam sajakmu
di situ, di alam terbayang, dunia yang kau gumpalkan
masih kusinggahi setiap musim yang menggugurkan catatan diriku

kelak bilaku tersesat di simpang abad
kuimla bait itu, sebagai doa pada tuhan



1427

Epilog II


—buah rindu

Kemana jua, aku tak hendak sembunyi
pergi dari tatap, lari dari ratap
ke dalam igauan pertemuan denganmu

di mana padang,  di mana kelok yang ingin kuelakkan dalam berjalan
warna magrib dan subuh merantai sunyi dalam gelap
lalu kelam, memapah ingatan pada elok manikam

pada siapa lambaian tak teikhlaskan
ketika layar dikembang, kala sauh dipintalkan
ada yang merambat di dinding tongkang ini, mengalir lewat nadi
       : ingatan pada ruang, jalan, kelok atau simpang yang menggubah pertemuan
           
Oi, kian sansai
Rindu mengekal
Sebak awan tawarkan gerimis
Lalu hujan, merintik rintik
Di tempayan hati



Padang 1427 

Ruang Diri


relakanlah lambaian itu, sebab hari hari akan datang menukar kisah
di tanganmu ada mimpi yang terhutang
harap dan doa tidak akan mampu membayarnya
di dada,
sesal selalu jadi bara

apa yang kau terka dari cericau cicak
barangkali hanya gemetar risau dalam jantung
pada siapa kau bertanya
tidak akan pasti jawabnya

esok,
apakah kau masih bertanya
            : adakah luka yang tak perih?

                                                                                                             bukandiya

YANG BERSEMBUNYI DALAM KATA


Menemuimu
Serupa mencari arah sesuara diberangkatkan
Lengking yang menjauh
Aku menegejarnya sampai hilang senyap
Hanya gema terjaring menjelma degup jantung,
tak usai-usai

Kaukah dalam selubung  kata?

                                                                                                  Rumah Teduh, juni 2005


Epilog I


pelaminan 

inilah dunia, tempat aku, dan kau, terbayangkan bertemu
kau mengucap akad, aku mengirim salam

kau menangis, bukan lagi sebab aku
manik manik tergerai, berhambur dari matamu
aih, wajahmu bertumbuhan di sulaman emas, di tabir dinding
memercak siluetmu lepaskan sunting, melepas kepedihanmu

hendak kutinggikan dagumu, anak dara:
tataplah mataku, sejenak biar kugiring kau
ke negeri yang pernah kau kuundang.
menyelinapku ke dunia esok dalam matamu. di situ, masih awan dulu, yang menyucut lamunku, bergumpal-gumpal, masih bergiring ke arah bukit
“biarlah, lepaslah anak dara, biarkan jadi hujan dalam diriku”

kuhitung langkah ke pintu usai kaubaca seluruh hikayat diri ini.
sepucuk sirih di rakungmu, menyirah bibir, sesirah luka yang hidup di ingatanku
           
negeri di dinding pelaminan, di situ, aku, kau terbayangkan bertemu
kupendam kisah itu, sua demi sua kita yang tak pernah ada kata
(sebab  diam pun  menyusun cerita)
Aih, ruang ini menjelma negeri dengan awan dari matamu,
            “seekor kupu-kupu kuda bertamu di bilikmu” pekik seorang sumandanmu.   

malam malam seusai alekmu, berulang-ulang anak dendang, dari balai ke balai hingga larut hari rintihkan hikayat kita

sungguh, tak terbayangkan kau tulis cerita itu di sampul undangan

Painan-Padang
1427

Kamis, 03 Februari 2011

Fase



Entah!
berapa waktu dari Ampunan pertama itu,
berjuta abad, kita menjejak undak-undak dari lepah ardi
gunung julang berpuncak di langit, tak terjengkal tak teramal
Tapal tabir Arasy…,
kerinduan nan kekal

Seringkus abad, ingatan-ingatan yang dipunahkan
Menjelma amnesia; dimanakah artefak kepurbaan itu, peradaban itu
sesudah mikraj, Surah-surah diringkus, tafsir-tafsir yang gaduh, tumbuhi alpa
dan kita pecah langkah menyusur sungai darah, dengan ujung pedang menulis sejarah, kilau cahaya, silaukan mata hingga buta
lalu, jejak kebabilan kian kekal dalam ingatan
“kau manusia?”
Entah!


1428

Bulan Pagi

     :faiz


siapa lagi kau tunggu, baliklah.
daun daun, orang-orang telah menguak jendela
membiarkan matahari ini hari menelusup  kedapur klorofil, ke bilik diri,
sedang kau masih jua mengapung di lembab awan,
bawa jejak malam—jejak sepi lelaki; jejak luka perempuan; jejak mimpi anak anak

wajah empatbelasmu terkikis sepanjang kitar yang melingkar,
menyerupa lampu redup cahaya
melalu waktu, matahari hadir merah saga, Ia bagikan  warna untuk segala rupa
: sepi lelaki membiru, luka perempuan ungu kelu,
  dan mimpi anak membening embun.

kaukah yang undang siang?
dan sebab ikrar, Cinta nan setia, kau tunggu sampai Ia benamkan wajahmu dengan hangat pelukcium.

baliklah, aku mohon
aku hanya tunggu malam,
di sini

sebuah pagi, pkm 23 Agustus 2005 


Catatan Malam

Catatan Malam
:yan 

kelak, kita mengerti jua akhirnya,
mengapa di halamanya yang gelap dengan seserpih cahaya
malam menulis catatan perburuan ini.

: sungguh, aku tak hendak bernyanyi dalam kecemasanmu
             laguku hanya suara letup hujan yang jatuh menimpa aspal
             sebentar akan senyap, terseret ke masa lalu,
 kedalam rintik tangis kanak-kanakku.

serupa sebuah ombak, aku kembali ke pusaran laut
mencatat kisah nelayan yang meramal cuaca lewat langit,
malam demi malam memukat nasib di palung tak terjengkal tak teramal.

kelak, kita mengerti jua akhirnya
walau takdir tidak pernah tertafsir.

2006  

Bertamu Ke Negeri Perempuan

Mengeja lukamu, aku membaca lagi garis garis yang layu di wajah ibu,
biografi yang dituliskan sepanjang bayangan  tubuhnya
lembar demi lembar risaumu membawaku pulang ke dalam rahimnya
di situlah, kutemukan segala awal riwayatku.

Selalu ada wajah dan kisah yang serupa di hadapan kaca
tapi apalah, kiniku tak bisa usap sisa bulir airmatamu di lembar maya itu
hanya rintihmu mengekal, berkulantun di ingatanku

berceritalah di pertemuan ini
barangkali esok, selepas perpisahan, kau akan melupaku
dan kutulis dirimu dalam catatan diriku

“ Tuhan, maukah izinkan kutulis dosa ini jadi puisi?”




Puisi: "Fragmen Academus"

_______________
Fragmen Academus
Buat orang-orang yang berdatangan

Hello Plato, aku di kursi F.2.6. pagi ini. Bayangnmu tumbuh dari dericit pintu yang tak pernah terkunci rapat. apalagi yang kau tertawai tentang kutbah ini
Aku kian berkarat menagih angka-angka keramat dalam ijazah tamat
“adakah ini semua kekal-abadi” entah siapa di antara kita, berebut debat

Ceramah di depan terlau serius, Democritus
Mari keluar sejenak, hisap candu, alirkan berjuta atom, bairkan sel sel terbius
Mendenyut nadi. sansai! diri hanya ingatan, sebentar hilang, sejenak muncul…

Beres Aristoteles. Akan kuringkus hari meretas teka-teki tubuh atau jiwa
jika akal kan kekal.

Tuan Socrates, adakah suatukali pertemuan dengan Yang Maha itu.
Hendak kutanyakan: mengapa di lembar ijazah bahasa kami gugup untuk bicara, hanya deretan ba!bi!bu!be!bo! membungkus makna.

Hai Manis, kemarilah
Bisakah makalahmu kucopy-paste?



1427

Rabu, 02 Februari 2011

Sebuah Tempat Untuk Pertemuan Kita

Sebuah Tempat Untuk Pertemuan Kita

Masih jua aku serupa dahulu
Berangkat, kembali lewat jalan nan sama. jalan yang cuma kita melaluinya.
namun kini ada kelok dan simpang yang tak lagi terhafal.

Sungguh, arah angin buatku gugu bimbang di simpang
Aspal didiang matahari menjelma luluk pematang

Di manakah dangau persinggahan tempat kita menyiang kubang kaki, mengupas lelah, mengeja kitab-kitab—menafsir ayat-ayat Tuhan sebelum membaring miring tubuh, sedang kita selalu berpapas arah saat penghujung malam mengundang pangkal subuh ketika hiruk lalulalang yang hilang kan kembali menggenang, menyayat lengang

Pendar bulan empatbelas menyepuh ranah
Tapi tak dapat jua kureka relief wajahmu.

Aku masih berangkat ke arah nan sama
ke kota yang jua kau hadapkan mimpimu,
bertaruh diam dan kaku kepalan.

Aku pun kembali ke taratak yang sama
ke tepian tempat anyir kelahiran di hanyutkan.
kubasuh seluruh Doa nan tersimpan dalam lipat lipat ingatan.

Aku pun kelak pulang ke liang nan sama
Entah kan terbawa jejak luka dunia, atau jejak cintamu
Barangkali di situlah Wajah Tuhan disembunyikan

Lapau sastra 13 september 2003